#mustamirpedak
Saya terkejut ketika istri saya "bersekongkol" dengan murid-murid Ngaji Bahagia menyiapkan acara ulang tahun saya. Tentu saja saya bahagia. Bukan karena acaranya tetapi karena ini adalah ungkapan cinta tulus dari mereka. Memang, kejutan-kejutan, entah kecil atau besar, adalah pupuk berharga bagi keselarasan dan keserasian hubungan. Kejutan-kejutan indah hampir selalu sukses meng-koneksi-kan batin.
Saya mensyukuri 44 tahun kesempatan menghirup udara kehidupan sambil, tentu saja, menyadari semakin dekatnya langkah menuju keabadian.
Ndelalah, sebelum acara ada tamu dengan keluhan mencemaskan kematian. Bapak Fulan telah berbulan-bulan cemas tentang kematian sehingga membuat tubuhnya jauh lebih melemah. Saya menceritakan kepada beliau sebuah kisah kematian Nabi Musa as.
Malaikat Izrail diutus Allah mencabut nyawa Nabi Musa. Tetapi Nabi Musa protes: "Bukankah aku ini kekasih Allah dan Allah kekasihku? Mana mungkin Kekasih tega mengambil nyawa kekasih-Nya?"
Malaikat Izrail kembali kepada Allah dan menyampaikan protes Nabi Musa as. Allah lalu berkata: "Katakan kepada Musa: mana mungkin kekasih tidak mau bertemu Kekasihnya?"
Izrail mendatangi Musa meyampaikan pesan Allah itu: mana mungkin kekasih tidak mau bertemu Kekasihnya? Lalu Nabi Musa dengan sukacita meninggal untuk berjumpa Kekasihnya.
Barusan, saat saya menulis ini, Bapak Fulan mengabari bahwa keadaannya membaik.
Iya, entah kita setuju atau tidak tentang acara ulang tahun, ada substansi yang jauh lebih bermakna untuk selalu kita hayati: MENSYUKURI KESEMPATAN HIDUP YANG ALLAH ANUGERAHKAN SAMBIL MENYADARI MENDEKATNYA PINTU GERBANG KEABADIAN.
No comments:
Post a Comment