Wednesday, December 9, 2020

Terima Kasih Corona

Terima kasih, Corona

Karena mu Alam Semesta beristirahat.

Pagi ini bangun sambil menikmati kesyukuran.

Betapa beruntungnya kita karena Allah menghadiahkan Corona untuk dunia.

Biasanya kita setiap hari baca berita Corona yang menakutkan. Tapi mari kita lihat dari sudut pandang yang lain.

Corona berhasil membuat alam semesta BERISTIRAHAT.

Pergerakan manusia tiada henti dimuka bumi.

Tapi dengan datang nya Corona membuat semua manusia terhenti aktifitasnya. Mereka masuk  ke sebuah ruang kecil bernama rumah, yang selama ini hanya menjadi tempat persinggahan tidur saja. Tapi kini mereka berkumpul bersama anak-anak menikmati cinta dan sayang. Di beri rehat bagi seluruh organ tubuh utk recovery.

Baitullah dan Nabawwi adalah masjid tersibuk 24 jam ibadah ada disana tanpa henti. Jutaan manusia berkumpul dan bergerak berpuluh-puluh bahkan beratus tahun lamanya ini berlangsung. 

Tapi hari ini Baitullah dan Nabawwi beristirahat, para penjaganya beristirahat, para pedagang disekitarnya beristirahat, hotelnya beristirahat, seluruh kota beristirahat.

Sehingga membuat kerinduan kepada Baitullah dan Nabawwi akan semakin memuncak dan dinantikan. Pun ini terjadi di masjid sekitar kita. Membuat kita rindu menghidupkan keramaian di masjid kita sendiri.

Bandara sepi, penerbangan terhenti, awak pesawat istirahat, petugas bandara dan segala penunjangnya beristirahat. Tempat hiruk pikuk manusia berseliweran keluar masuk antar negeri, kini punya waktu berbenah diri.

Pabrik-pabrik ditutup, buruh pabrik diliburkan, tak ada produksi terjadi. Membuat langit biru menjadi bersih berseri, yang selama ini dari pabriklah penghasil polusi CO2. Tapi kali ini pohon-pohon punya waktu memproduksi oksigen utk paru-paru bumi.

Jalan-jalan sepi, pertokoan sepi, keramaian manusia bergerak sepi. Tempat terramai transaksi ekonomi, kini terhenti. Seakan ekonomi mati. Kita mengira bahwa kebangkrutan terjadi disana sini.

Orang miskin bertambah miskin karena tak bisa keluar rumah mencari rezeki.

Sampai disini akhirnya saya mengerti mengapa Allah datangkan Corona utk manusia di bumi. Karena memang begitulah cara Allah menjaga alam semesta yang diciptakanNya.

Lihatlah meskipun kita terpaksa bekerja dirumah, dengan bekal uang tabungan yang belum tentu cukup utk berapa lama lagi masa Lockdown ini berlangsung. Tapi ternyata kita jadi belajar belanja hemat, makan seadanya. "Mangan ora mangan sing penting ngumpul" pepatah ini jadi berharga hari ini.

Orang tua yang biasanya tak tau keseharian anaknya, sekarang berhadapan langsung dg mereka. Anak yang tak tau kesibukan orangtua untuk apa selama ini, mulai merasakan betapa berharga nya kehadiran orangtua di dekat mereka. Seberapa pun galaknya orangtua, anak tetap mencintai nya.

 Orang-orang miskin, pedagang kecil, pengusaha modal pas-pasan mungkin menjerit karena Corona. Tapi ternyata Allah datangkan kreatifitas transaksi yang tak biasa dilakukan. Sekarang tukang sayur di pasar bisa main HP utk transaksi sayur online, Sembako online, sate online, lontong sayur, nasi uduk online dan sejumlah usaha online dadakan bermunculan dari masyarakat kecil. Ternyata mereka sdg dicerdaskan Allah.

Pun buat mereka yang betul-betul miskin Allah datangkan para relawan, dermawan, para penyelamat kemiskinan datang berbondong-bondong menyelamatkan mereka.

Ekonomi yang ditakuti beralih menjadi sebuah efektifitas cerdas yang tak disadari. 

Belanja negara pun siap dialihkan untuk menyelamatkan negeri. Stop pembangunan infrastruktur, UN ditiadakan dan banyak lagi agenda penghematan untuk menyelamatkan keuangan negara demi rakyat dilakukan disana sini.

Mungkin bumi ini akan beristirahat panjang dari Januari s.d Juli untuk berbenah diri. Tapi setelah Corona pergi. Semua kita menjadi berenergi, penuh cinta, dedikasi dan menghargai tiap diri.

Kebayang setelah Corona pergi, masjid menjadi tempat kembali, bertemu teman sekantor laksana berabad tak bertemu, murid memeluk para guru karena rindu.

Senyum pedagang kembali bermekaran, pabrik siap beroperasi. Jalanan menjadi tertib meski ramai. Ekonomi nampak bergeliat lagi.

Rumah sakit akan berubah nama menjadi rumah sehat. Karena bersama Corona semua manusia belajar hidup sehat. Cuci tangan setiap saat, menu makan sehat, berjemur badan saat sinar matahari jamnya tepat.  Para dokter, nakes dan perawat,  kan tersenyum bahagia melihat semua orang sehat wal aafiyat. Giliran mereka yang kan istirahat melawan penat.

"Terima kasih yaa Allah kau anugerah kan untuk kami Corona bukan untuk menyakiti kami, tapi kau datangkan justru untuk menyelamatkan hidup kami."


-Bunda Kurnia Widhiatuti-

(Salah Satu Leader di SC Sygma Daya Insani)

Mental Distancing

@mustamirpedak


Istilah social distancing menjadi sangat populer karena menjadi salah satu strategi mencegah mewabahnya virus (baca: corona). Intinya adalah kita menjaga jarak ketika berinteraksi dengan orang lain.

Nah, sebenarnya ini juga berlaku dalam kaitan "wabah" emosi. Emosi kita mewabah merasuki seluruh elemen psikis dan fisik kita. Misalnya, saat takut maka virus takut itu mewabah ke kepala kita sehingga pusing, ke dada kira sehingga sesak, atau ke sendi-sendi sehgga terasa ngilu. Demikian juga emosi-emosi yang lain.

Nah, saya punya teknik untuk mencegah mewabahnya virus emosi itu dalam diri kita. Agar kedengeran keren saya beri nama mental distancing.

Kesalahan terbesar kita adalah terlalu dekatnya aku kita dengan mental kita. Bahkan saking dekatnya sering kali menyatu. Kita tidak menyadari lagi antara aku dan mentalku. Jika antara aku dan mentalku ini terlalu dekat maka si aku mudah tertular negatifitas dari mentalku. Apalagi jika antara aku dan mentalku itu menyatu maka negatifitas itu dengan tanpa jeda langsung merusak aku.

Nah, di sinilah pentingnya kita melakukan mental distancing. Caranya adalah dengan cara mengawasi mentalku itu. Kalau perlu imajinasikan mentalku itu dalam layar televisi lalu aku mengawasi mentalku. Lakukan beberapa menit maka negatifitas mentalku tidak akan mengganggu aku.


Menjadi Saksi

Tanpa sadari kamu menganggap tubuhmu adalah kamu. Kamu menganggap perasaanmu adalah kamu atau bahkan menganggap pikiranmu adalah kamu.

Akhirnya kamu terpenjara dalam tubuhmu, perasaanmu dan pikiranmu. Inilah sumber malapetaka dan penderitaan panjangmu.

Kamu harus sadar bahwa kamu bukanlah tubuhmu, bukanlah perasaanmu dan bukanlah pikiranmu. Kamu adalah kamu.

Maka jadilah saksi bagi tubuhmu, perasaanmu, dan pikiranmu sebelum mereka kelak menjadi saksimu di hadapan-Nya. Saksikan apa yang mereka lakukan. Amatilah gerak gerik mereka. Dengarkan suara-suara mereka. Rasakan sensasi-sensasi mereka. Prinsipnya adalah SADARILAH!

Setiap pagi kumpulkan mereka dan suruh mereka mendengarkanmu:

1. Wahai tubuhku, hari ini aku akan menyaksikan gerak gerikmu. Tuhan menitipkanmu kepadaku untuk membantuku maka bantulah aku.

2. Wahai perasaanku, hari ini aku akan menyaksikan gerak gerikmu. Tuhan

menitipkanmu kepadaku untuk membantuku maka bantulah aku.

3. Wahai pikiranku, hari ini aku akan menyaksikan gerak gerikmu. Tuhan menitipkanmu kepadaku untuk membantuku maka bantulah aku.

Singa atau Srigala

 Membaca kembali pelajaran yg telah lalu.

@mustamirpedak


Seorang murid pergi ke hutan untuk meninggalkan hiruk pikuk kehidupan. Dia ingin mencari inspirasi di hutan yang sunyi. Setiap malam dia shalat dan berdoa. Pagi harinya dia datang ke desa pinggir hutan untuk mencari makan. Tujuh hari lamanya dia melakukan rutinitas itu. 

Di hari ke delapan ketika kembali dari desa menuju tengah hutan dia melihat seekor srigala lumpuh. Anehnya srigala lumpuh itu tampak gemuk dan sehat. Dia bertanya dalam hati, "Bagaimana srigala lumpuh ini bisa mencari makanan sehingga tetap gemuk dan sehat?"

Tiba-tiba terdengar auman singa. Dengan sigap si murid segera naik ke atas pohon agar tak disergap sang singa. Sesaat kemudian datanglah sang singa membawa paha kambing segar. Dengan tenang sang singa memberikan daging segar itu kepada srigala lumpuh. Dan srigala lumpuh itupun makan dengan lahapnya.

Hati sang murid tercekat. Dia terkagum-kagum melihat kejadian luar biasa itu. Dia kini paham mengapa srigala lumpuh itu bisa tetap gemuk dan sehat.

Kejadian itu sangat memengaruhi pikiran sang murid. Baginya itu adalah kejadian dan pengalaman ruhani yang mengagumkan dan sangat inspiratif. Dia yakin inilah ilham yang selama ini dia cari. Inilah cara Tuhan menyampaikan pesan kepadanya. Pesan tentang hakikat kehidupan, menurutnya. 

Dia terus menerus berpikir dan merenung tentang apakah pesan Tuhan dalam peristiwa hebat itu. Akhirnya dia menemukan pesan itu: REJEKI TIDAK PERLU DIKEJAR. TUHAN SUDAH MENJAMINNYA. Dia yakin kebenaran pesan Tuhan ini.

Sejak saat itu sang murid terus berdoa dan berdoa. Dia tidak lagi mencari makan di pinggir hutan. Dia yakin Tuhan telah menjamin rejekinya sebagaimana rejeki srigala. 

Hari demi hari dilaluinya tetapi tak juga ada yang datang memberinya makanan. Semakin hari tubuhnya semakin lemah dan semakin lemah. Tak juga ada yang mengirimnya makanan.

Pada hari ke 3, saat dia sudah sangat lemah, lewatlah seorang Kiai di hutan itu. Sang Kiai mendekati sang murid dan bertanya, "Apa yang terjadi kepadamu, Nak?" Sang murid menjawab, "Aku sedang menjalankan petunjuk Tuhan, Kiai." Sang Kiai penasaran, "Apa maksudmu, Nak?"

Sang murid pun menceritakan kisahnya, "Aku menemukan pesan bahwa aku harus memasrahkan rejekiku kepada Tuhan sebagaimana srigala itu. Bukankah ini petunjuk dan pencerahan dari Tuhan, Kiai?"

Sang Kiai pun berkata, "Tentu saja peristiwa ini adalah petunjuk dari Tuhan, Nak. Tetapi mengapa kamu memilih menjadi serigala? Mengapa kamu tidak memilih menjadi sang singa, Nak?"

Sang murid terbengong. Dia sadar: jangan-jangan dia salah membaca petunjuk Tuhan.


#mustamirpedak


Catatan Penyusun:

maka dari ilmu, menuntut ilmu itu perlu, agar kita tak salah langkah dan sia-sia menghabiska waktu di dunia ini untuk melakukan hal yang tiada gunanya.

Sumber Penderitaan: Konflik Dalam Diri

 Membaca kembali pelajaran yang telah lalu.

@mustamirpedak


Berikut ini saya tuliskan dialog saya dengan seorang ibu muda yang diibakar rasa cemburu. Menurut cerita beliau si suami sudah berulang kali selingkuh bahkan sudah sampai kepada perbuatan terlalu jauh (saya tidak perlu menjelaskan di sini). 

Tolong perhatikan dialog saya dan ibu muda tersebut. Sebagai seorang guru saya tidak dalam posisi mengubah suaminya. Saya akan lebih fokus kepada perubahan pada diri ibu tersebut. Seorang guru harus selalu berprinsip bahwa kedamaian hati tidak pernah bersumber dari luar diri. Dia berasal dari dirinya sendiri.


BERIKUT DIALOGNYA:

Tanya: Pak, saya mau tanya kalau pas saya melihat suami saya chatingan dengan orang lain saya masih emosi,  marah, cemburu, saya sudah istighfar tetep saja masih. Sampai saya mau ngunek nguneke (marah dengan kata-kata kotor) suami saya. Cara mengontrol emosi ini bagaimana, Pak?

Jawab: Menurut njenengan emosi itu bermanfaat nggak, Mbak?

Tanya: Menurut saya ada, Pak.

Jawab: Kalau ada manfaatnya ya berarti marah itu nggak apa-apa, Mbak.

Tanya: Saya masih susah mengontrol emosi marah, benci, dan cemburu, Pak. Pengen saya lepaskan.

Jawab: Kalau dilepaskan nanti nggak dapat manfaatnya lho, Mbak.

Tanya: Kalau saya pendam hati saya sakit, Pak

Jawab: Kenapa dipendam, Mbak?

Tanya: Saya malah bingung, Pak. Dilepaskan nggak boleh dipendam juga nggak boleh. Lha terus gimana?

Jawab: Hehe. Ini bukan saya yang menyuruh memendam atau melepaskan lho, Mbak. Menurut njenengan sendiri ada manfaatnya dan juga menurut njenengan sendiri dipendam sakit. Jadi bukankah njenengan sendiri yang harus tegas, Mbak: mau melepas marah atau tetap marah?

Tanya: Terus gimana, Pak?

Jawab: Sebenarnya yg bikin susah itu konflik dalam diri njenengan sendiri antara: ingin marah dan ingin melepas marah. Betul nggak, Mbak?

Tanya: Bagaimana Cara melepas marah, Pak?

Jawab: Jadi ingin yang mana, Mbak? Haha.

Tanya: Saya ingin melepasnya, Pak.

Jawab: Seriusss??

Tanya: Nyesek di dada, Pak. Saya ingin tenang.

Jawab: Bisa jadi jadi nyeseknya itu bukan karena marah, Mbak.

Tanya: Lha Karena apa, Pak?

Jawab: Banyak orang merasa nyesek itu karena konflik dalam diri njenengan sendiri yaitu: antara ingin marah dan ingin tidak marah, Mbak.

Tanya: Saya ingin sekali tidak marah, Pak. Tapi kalau dipicu otomatis kemarahan saya bisa keluar.

Jawab: Mari mencoba menyelesaikan konflik dalam diri sendiri, Mbak. Seseorang marah karena dia mengizinkan dirinya marah. Seseorang tidak marah karena dia mengizinkan dirinya tidak marah. Problemnya adalah sering konflik antara ingin marah dan tidak ingin marah. Konflik inilah yang menimbulkan ketidaknyamanan itu, Mbak. Jika njenengan kersa hayati betul kata2 saya ini, Mbak: ketenangan tidak pernah bersumber dari luar. Dia berasal dari diri kita sendiri.

Tanya: Nggih, Pak.


Tambahan:

Menyiksa Diri Sendiri

Iri dengki, dendam kesumat, kekecewaan, atau kesedihan sesungguhnya menyakiti diri sendiri. Itu semacam kejahatan kepada diri sendiri.

Jika kamu disakiti orang lain kamu mungkin bisa menghindar. Tetapi jika kamu menyakiti dirimu sendiri mustahil kamu menghindarinya.

Ini rumus sederhana yg sering terlupakan:

Kamu berkewajiban berusaha menjadi baik bukan menjadi TAMPAK baik.

Tanya: Cara mengatasinya gimana pak?, seringkali sifat2 tsb datang menghantui tanpa bisa diduga kapan momennya

Jawab: Seringkali tanyakan kepada diri sendiri:

"Untuk apakah iri dengki ini?"

"Untuk apakah kekecewaan ini?"

Dst.

Cukup tanyakan dan selalu tanyakan.

Maka lambat laun perasaan2 negatif spt itu akan terkikis bahkan tanpa kita sadari.

#mustamirpedak

#ngajibahagia


Catatan Penyusun:

Konflik ego, pikiran dan perasaaan itu memang akan terus ada dalam diri selama kita masih bernafas, yang perlu kita lakukan adalah belajar untuk mengontrolnya agar jangan sampai dikuasai oleh emosi yang tak terkendali. Wallahu 'alam.

Lepaskan Keteganganmu

 Membaca kembali kisah yang lalu.

@mustamirpedak


Rabu, jam 11an siang datang seorang bapak yang meminta diruqyah. Sebenarnya senin sebelumnya beliau sudah datang tetapi karena saya sudah ada beberapa janji ruqyah maka terpaksa saya belum bisa melayaninya.

Usia beliau 56 tahun. Sambil menahan sakit karena tegangnya leher beliau bercerita bahwa sudah beberapa kali ruqyah tetapi belum tuntas. Menurut beliau masih ada jin dalam tubuhnya.

Saya bertanya kepada beliau bagaimana beliau yakin bahwa dalam dirinya ada jinnya. Dengan yakin beliau berkata bahwa sakitnya aneh. Beberapa kali dalam seminggu beliau kejang. Anehnya, tentu menurut beliau, kejang itu selalu terjadi di antara jam 1-2 malam. Alasan lainnya adalah bahwa para peruqyah yang meruqyah beliau meyakinkan beliau bahwa masih ada jin dalam dirinya.

Saya tidak menyanggah keyakinan beliau. Saya menanyakan bagaimana awal muasal penyakit itu muncul. Dengan wajah murung beliau bercerita. Beliau dulu pegawai di salah sata anak perusahaan BUMN ternama. Selama bekerja beliau sering sekali tertekan baik oleh beban pekerjaan maupun oleh teman-teman sekerjanya. Keuangannya cukup baik dan sempat memiliki tabungan ratusan juta rupiah. Namun istrinya lari membawa tabungan itu bersama selingkuhannya.

Sejak saat itu lehernya sering tegang dan sangat sulit tidur. Bahkan 3 bulan ini dia sering kejang.

Sudah beberapa kali periksa di dokter saraf dan diMRI ternyata tidak ditemukan problem organik dalam tubuhnya.

Saya berkata kepada beliau untuk "mengabaikan" jin-jin dalam dirinya. "Kembalilah kepada Allah, Pak."

Setelah saya ajak berdiskusi tentang hakikat kehidupan saya mulai membacakan Al-Quran. Sebelumnya saya mengatakan bahwa ketika saya membaca Al-Quran ingatlah Allah. Jangan mengingat selain Allah.

Awalnya beliau seperti mau muntah. Saya katakan, "Sambil terus mengingat Allah jangan tahan muntahnya, Pak."

Tetiba beliau melengking sangat keras demi memuntahkan isi perutnya. Muntahlah beliau. Lalu menangis tersedu-sedu cukup lama. Saya terus menerus mengajak beliau mengingat Allah.

Beberapa saat kemudian beliau berkata, "Rasanya plong banget, Ustadz."

Besoknya beliau mengabari bahwa bilau bisa tidur sangat nyenyak. Ini tidur paling nyenyak selama lima tahunan ini. 


JIKA KAMU DAMAI MAKA TUBUH, PIKIRAN DAN HATIMU AKAN MENGHEMPASKAN PENYAKIT-PENYAKITNYA TANPA KAU SADARI.


Tambahan:

Biasanya sakit berulang pada jam 1-3 (menjelang fajar) itu berhubungan dengan stagnasi energi di Liver.

Catatan Penyusun:

maka dari itu, detox terbaik untuk tubuh dan jiwa (detox emosi) adalah detox di sepertiga malam terakhir.

Putraku Malaikat Surgaku

Oleh:  Fitra Wilis Masril

Putraku bukan si juara umum di sekolah, bukan bintang utama di pengajian, juga bukan pemain inti di lapangan futsal, dan tidak juga juara melukis ataupun pemenang lomba beladiri.

Dia adalah anak-anak sepuluh tahun , kelas lima SD, yang senang bermain tiada henti, menikmati keciprak air hujan, mengayuh sepeda menantang angin, dan tak terlalu suka belajar (belajar dalam pengertian umum orang Indonesia, yaitu membaca buku pelajaran sampai hafal titik koma nya).

Ini menyebabkan rumahku tak punya banyak piala.

Terkadang, sebongkah kecewa bergayut di hati, kecewa  pada  nilai  matematikanya yg tak sempurna padahal soalnya  gampang, kecewa  pada hafalan surat pendek al quran yang masih salah, kecewa pada kegagalan gol karena tendangannya yg lemah.

Mana pialamu , duhai kesayanganku?

Allah, Tuhan yang kuimani berbisik lembut.

“Kamu adalah ibu yang sangaaaaaaaaat jauh dari sempurna, dan putramu tak pernah menuntut lebih, dia ikhlas, tak melayangkan protes atas segala kekuranganmu, lalu kenapa kamu tak membalasnya dengan cara serupa? Kamu sedemikian banyak menuntut dari putramu,” aku terkesiap.

Sekawanan awan sedemikian rendah, gelap,  hujan memberi aba-aba mau turun, aku tergopoh  mencari jilbab, berlari ke jemuran. Dan disana…. putraku sedang  membungkuk memungut jemuran yg berjatuhan, sebelum kusuruh.

Aku tertidur pulas, terbangun mendengar suara berisik di kamar mandi, ternyata putraku sedang memandikan adik bungsunya, berjongkok menyabuni jari-jari kaki adiknya, tanpa kuminta.

Aku heran, kenapa rumah sedemikian damai, tak ada pekikan berebut mainan, ternyata putraku sedang bersimpuh di sudut kamar, membuatkan kapal-kapalan kertas secara adil untuk ketiga adiknya.

Embun dimataku mendesak keluar, ketika hujan turun deras dan  putraku  dilindungi payung lebar, berjalan ke rumah tetangga kemudian kembali dengan membawa daun sirsak untuk peningkat daya tahan tubuhku.

“Empat belas lembar, udah kupilihin yang bagus-bagus, biar mama cepet sembuh” tangannya terulur menyerahkan daun sirsak, , aku terkapar lemah kala itu.

Mataku menghangat, kuterima dengan seksama, seperti pak presiden menerima bendera pusaka.

Terimakasih putraku, engkau telah memberi piala, dan ini adalah sebenar-benarnya piala, piala yang sesungguhnya untukku.

Nak, ijinkan aku mencium tanganmu, sebagai wujud permohonan maaf atas segala tuntutanku...


Putra putri yang shalih- shalihah... juara yg sesungguhnya. 

#sebuah refleksi bagi orang tua


Catatan Penyususn:

Saya pernah membaca kisah semacam ini, berdasar kisah nyata, dalam buku: Don't Be Angry, Mom yang ditulis oleh dr. Nurul Afifah.

Ya, terkadang, orang tua menginginkan sesuatu dari anak, begitupun sang anak, menginginkan sesuatu dari orang tua. Kuncinya adalah komunikasi yang baik. Bangun komunikasi yang baik dengan anak, insyaAllah mohon pertolongan kepada Allah untuk mempermudahnya

Tuesday, December 8, 2020

Abiku Memang Beda

SELAMAT HARI LAHIR ABI YANG MEMANG BEDA

Diusiaku 11 tahun sekarang ini, aku sadar bahwa aku merasa berbeda dari kebanyakan anak lainnya. Dan itu semua karena Abiku. Ketika aku masih kecil, Abi sering pergi ke Jakarta untuk mencari nafkah, sedangkan Ummi mengajar disekolah, maka disaat aku masih kecil, aku adalah anak yang sering berjalan sendiri dari rumah ke TK. Disaat anak-anak lain kebanyakan diantar oleh orang tuanya. Dan disaat itu kami masih berumah di Kebumen. Aku jarang sekali bertemu dengan Abiku.

Suatu ketika, aku pernah jatuh dari motor, aku terluka hingga tulang tanganku patah, akhirnya kami pindah ke solo dan tinggal berumah kontrakan disana. Setelah aku sehat atau sudah dimasukkan penyanggal yang ada didalam tanganku, kita akhirnya tinggal disolo. Aku masuk kedalam TK yang ada disekitar sana. Disaat aku belajar di TK yang ada didekat rumah, aku tidak menyadari kalau Abi itu belajar online hingga dari pagi sampai malam. Abi memulai bisnis barunya. Alhamdhulillah bisnisnya Abi ada bertumbuh.

Ketika aku sudah lulus dari TK, maka aku belajar disekolah hingga kelas 2. Dan di kelas 2 ini aku dikhitan, disaat selesai dikhitan inilah Abi berkata kepadaku: "Sekarang kamu sudah sunat, kini Abi menganggap kamu sudah balig, artinya Abi tidak ada kewajiban untuk memberimu makanan, pakaian, dan biaya belajar. Itu berarti kamu harus mencari rezeki sendiri, tapi apakah kamu bisa? Aku langsung jawab "tidak" (inilah yes strep atau no strepnya Abi yang selalu memberikannya kepadaku, yakni memberi pertanyaan yang membuat orang lain untuk mengikuti alur berfikirnya. Dan sekarang aku baru tahu tentang ilmu ini, yang membuat orang berkata ya atau tidak sesuai keinginan kita)

Setelah itu Abi mengatakan, karena kamu belum bisa cari rizeki sendiri maka atas dasar rasa kasih sayang Abi kepadamu, maka rezeki yang diberikan Allah kepada Abi akan kuberikan sebagian harta ini untuk keperluanmu, tapi ingat, harta ini adalah harta yang dititipkan Allah ke Abi, bukan hartamu. Kamu masih miskin dan perlu cari rezeki sendiri, Abi akan jadi gurumu yang mengajarkanmu untuk mencari rezekimu sendiri. Dihari khitan itu yang seharusnya aku gembira malah aku bersedih, anak anak yang lain setelah sunat mendapatkan hadiah banyak,

Abiku memang beda, dia menarik semua hartanya dari diriku, dan menjadikanku anak miskin dihari sunatku itu. Sekarang semakin besar aku baru mengerti hikmah penarikan harta itu atau peristiwa pemiskinan itu adalah titik awal pembelajaranku tentang hidup sampai sekarang ini. Abiku orang yang tepat janji, dia memang menjadi guru bagiku untuk mencari rezekiku sendiri, dan tak hanya guru, Abiku juga investor pertamaku. Abi memberikan hutang modal 10 juta tanpa bunga kepadaku yang nanti harus aku kembalikan lagi kepadanya untuk hidup dan memulai usahaku sendiri. Aku harus hidup dan berbisnis dengan modal 10juta itu.

Abiku berkata: ini adalah ujian untukmu untuk mendapatkan gelar Al-amin dari Abi, Al-amin yang dimaksud abiku adalah gelar bagi orang yang bisa diandalkan atau dipercaya, diandalkan untuk memegang amanah. Sama seperti Rasulullah mendapatkan gelar itu sebelum fase diangkat sebagai Rasul. tapi Rasulullah mendapatkan gelar yang diakui dunia, sedang aku hanya diakui Abiku saja. Dan sekarang aku masih berjuang untuk hidup dan bisnisku dengan modal 10 juta itu.

Dan disaat yang sama, dihari khitan itupula Abi memberikan wasiat kepadaku, yang juga kepada adikku setelah dia khitan juga, dan inilah wasiat itu:
1. Jangan pernah menyakiti semua wanita, terutama Ummimu. Jangan pernah berkata tidak atau ah kepada Ummimu. Jangan pernah menyakiti kepada semua wanita. Karena semua wanita itu akan dan telah menjadi ibu yang akan menghidupkan pertumbuhan peradapan manusia dibumi ini.
2. Carilah ilmu hingga akhir kematianmu, Carilah ilmu melalui guru dan kitab, pergilah sejauh jauh mungkin untuk mencari guru terbaikmu, bacalah buku terbaikmu sebanyak mungkin dan ikatlah ilmumu dengan tulisan. Ajarkan ilmumu kepada orang lain, jangan kamu simpan sendiri ilmumu. Jadilah pengajar karena mengajar adalah pekerjaan nabi nabi kita. Gunakanlah ilmumu untuk amal. Buatlah karya atas ilmumu dan pastikan kamu mengurusi urusan urusan besar.
3. Carilah rezeki yang halal dan thoyyib, jangan pernah kamu dan anak keturunanmu memakan makanan yang subhat atau yang masih meragukan, karena barang subhat lebih baik kamu tinggalkan. Jadilah orang yang menggenggam banyak harta dan kamu gunakan untuk infak dan shodakoh pada orang fakir dan miskin. Jagalah hatimu untuk berjarak dengan harta yang kamu miliki agar kamu tidak menjadi orang yang kikir dan pelit.
4. Carilah istri istri yang memiliki sanad yang baik dan menjaga rasa malunya, karena rasa malu dari istri-istrimulah yang menjaga kehormatanmu. Milikilah keturunan keturunan yang banyak dari mereka. Ajarilah istri dan anak anakmu tentang agama. Ketika kamu akan menikah, beritahu kepada calon istrimu, beritahulah dia bahwa taatku adalah kepada ummiku dan taatmu (istri) adalah kepadaku. Kalau ada masalah antara orang tuamu dengan orang tuaku dalam waktu yang sama maka aku akan mengutamakan orang tuaku. Jika Ummi ku meminta waktu lebih banyak untuk bertemu diriku dibandingkan waktu lebih banyak dengan istrimu maka katakanlah aku akan tetap memberikan waktu lebih banyak kepada Ummiku dan jika kamu mendapatkan rezeki berupa harta dari Allah maka sebagian besar harta akan aku berikan kepada Ummiku untuk membahagiakan Ummiku dan istrimu kamu minta untuk mengambil secukupnya saja. Dan jika kamu ingin melakukan sesuatu hal maka selalulah minta ridho kepada Ummimu. Karena disitulah surgamu."

 Disaat aku kelas 2, aku pindah sekolah. Dan di SD yang kedua ini aku belajar, dan sebelum lulus, akhirnya orangtuaku memutuskan untuk keluar dari sekolah dan home schooling. Kenapa kok Abi membuatku tidak sekolah? Karena abi ingin aku memegang perkara perkara yang besar, maka cara pengajarannya pun berbeda dengan yang lain dan cara belajarnya itu pasti yang berkaitan dengan perkara atau urusan yang besar itu.

Abi berkata,"Abi akan mempersiapkanmu agar kamu memiliki tulang punggung yang siap memikul beban yang berat, yaitu urusan urusan yang besar" Lalu disaat home schoolling ini aku mengikuti kuliah yang berisi tentang pelajaran jualan online, dan 3 bulan aku belajar disana. Aku anak paling kecil disana, yang lainnya sudah besar dan lulus kuliah, dan ada yang sudah punya anak seusiaku. Abiku memang beda, anak yang lain seusiaku yaitu 11 tahun, seharusnya masuk Sekolah Dasar, aku malah tidak, aku diminta masuk Kuliah. Kuliah Jualan Online. Letak kuliahku ini berada di Jogja, dan aku selalu bolak balik dari Solo hingga jogja hampir setiap hari. Ketika sedang berjalan untuk menuju ke jogja, aku disuruh oleh Abi untuk menulis tulisan yang isinya adalah tentang sejarah nabi Muhammad S.A.W. dan ketika perjalanan pulang dari Jogja ke Solo, disinilah aku banyak berbicara dengan Abiku. Dan Abiku banyak bercerita kepadaku. Dan semua pembicaraan itu aku rekam.

Dihome Schoolling ini, aku berbeda nasibku dengan disaat aku TK yang kesepian dari Abi. Sekarang rata rata waktuku banyak bertemu dengan Abi. Dan suatu hari ketika kami pulang dari jogja kesolo aku pernah bertanya kepada Abi bahwa apakah Abi pernah menyesali sesuatu urusan di seumur hidup Abi? Maka abi menjawab ;"Tidak pernah Kak, bahkan kalau takdir ini diulangi 1000 kali sekalipun, maka Abi akan tetap meminta takdir seperti ini tetap terjadi kepada Abi, karena Abi merasa selalu Menang. Kalau Abi memutuskan satu hal, begitu keputusan itu benar, berarti abi bersyukur. Tapi kalau Abi salah, Abi belajar dari ini semua, jadi Abi enggak pernah merasa kalah. Selalu menang dalam batinnya Abi. Itu yang membuat Abi tenang Kak, jadi Abi , ya salah ya sudah, berartikan Abi belajar, mengambil hikmah dari perbuatan kemarin. Tinggal tobat aja karena ada mekanisme tobat dalam agama. Manusia biasa itu tidak selamanya benar terus atau salah terus, pasti kadang benar kadang salah, kalau dalam kondisi benar ya bersyukur, kalau salah kita belajar mengambil hikmahnya dan bertaubat untuk tidak mengulanginya. Itulah kenapa Abi membenci ketika orang merasa salah kemudian dia menjadi takut, menjadi khawatir tanpa segera mau memperbaikinya.

Dengan sikap seperti ini. maka Abi merasa selalu menang, benar ya menang, salah ya menang. Kalau sudah begini: buat apa menyesal, katanya. Di waktu yang lain aku juga pernah bertanya kepada Abi: apakah Abi pernah merasa marah dengan orang hingga saat ini? Abi menjawab ,"maksudnya dendam kak?, aku menjawab, iya, terus Abi menjawab lagi, dendam itu sama dengan penyesalan, urusannya berkaitan dengan perbuatan dimasa lalu, sedang khawatir adalah perbuatan yang terjadi berkaitan dengan masa depan. Masa lalu dan masa depan keduanya tidaklah Abi genggam sekarang, karena masa lalu sudah berlalu, masa depan belum terjadi. Jadi mengapa Abi harus menjadikan beban dimasa kini?. Jadikanlah masa lalumu sebagai sejarah yang penuh hikmah dan masa depanmu sebagai harapan tanpa kekhawatiran. Jadi Abi tidak pernah mau merasa dendam kepada orang. 

 Abi memberikan syarat untuk lulus dari home schoolling, adalah dengan membuat buku, beliau mengatakan "kamu harus lulus dengan membuat buku, karena out put atau karya dari kamu sekolah bersama Abi itu adalah kamu mengikat ilmunya dengan membuat kitab, mencatat menjadi kitab, makanya buku ini adalah Syarat kelulusan SD. Syarat kelulusanku di SD Soekmono Adi" katanya.

Kenapa Abi kasih pelajaran sejarah dengan sangat sering bahkan disuruh menuliskan dengan detail dari peristiwa ke peristiwa dan berserta hikmah-hikmahnya, inilah alasannya Abiku: karena selain sejarah itu adalah jembatan antara masa kini dengan masa lalu dimana kita bisa ambil hikmah atas peristiwa peristiwa masa lalu itu dan hikmah ini kita bisa gunakan untuk membuat keputusan di masa kini dan masa depan, selain itu Abi ingin mengajarkan tentang karakter karena isi semua sejarah itu adalah karakter dari tokoh tokoh sejarah dan sebaik baiknya belajar karakter dalam sejarah, adalah sejarah Rasulullah Saw. Untuk mempelajari karakter dalam sejarah seperti ini, Abiku selalu berpesan : ketika kamu membaca sejarah Rasulullah Saw, baik didalam Quran, hadits maupun dibuku sejarah lainnya, berfikirlah atau berimajinasilah kamu seolah olah kamu sendiri yang menerima peristiwa itu agar kamu dapat dengan mudah mengambil hikmah atas dirimu sendiri, agar kamu juga bisa mengukur dirimu sendiri apakah kamu memiliki keputusan keputusan yang sama seperti Rasulullah? Jika peristiwa itu diberikan hanya kepadamu, jarak keputusanmu dengan keputusan Rasul itulah yang harus kamu kejar, karena membuat putusan itu adalah poin yang besar dalam membentuk karaktermu.

Kebanyakan orang takut mengambil keputusan karena itu mereka diombang-ambingkan oleh orang lain, hidup mereka diatur oleh orang lain. Dan ketahuilah jika ada orang seperti itu maka orang ini tidak bisa diandalkan, maka jauhilah sifat seperti ini. Ada satu nasehat dari Abiku yang melekat kuat dikepalaku, "ketika kamu sudah mengurusi perkara-perkara besar dan mengalami kehidupan yang sangat tertekan dalam kesusahan atau dalam kegentingan, maka tenangkanlah jiwamu, hiburlah jiwamu dengan kisah kisah orang terdahulu yaitu nabi nabimu yang telah diberikan beban yang lebih berat dari pada dirimu, ceritakanlah cerita cerita itu kepada jiwamu agar jiwamu menjadi tenang. Ini pula yang menjadi alasan kenapa Abi selalu menceritakan sejarah Nabi Nabi dengan sangat serius kepadamu. Disaat home scholling ini, aku selalu dikondisikan untuk selalu membaca buku.

Ada dua cara untuk mendapatkan ilmu, yaitu dengan cara membaca buku dan guru, karena abi itu mempunyai tipe introvert, maka abi lebih mengutamakan di jalur buku, karena abi mengutamakan jalur buku maka didalam rumah itu banyak sekali buku, dan Abiku adalah seorang kutu buku, maka tak heran kalau Abi bisa memperoleh ilmu banyak hingga sejauh ini. Buku buku yang diberikan kepadaku adalah buku buku dari penulis utama, bukan saduran. Sebagai contoh buku yg aku sedang pelajari adalah shirah nabawiyah dari seh SYAIKH SHAFIYYURRAHMAN AL-MUBARAKFURI, sirah nabawiyah dari Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah dari buku Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi, Sirah Nabawiyah K.H. Moenawar Chalil, Sirah Nabi Muhammad dari Prof, M Quraish Shihab, kitab berjudul Muhammad dari Abu Bakr Siraj al Din, kitab berjudul Khadijah dari Abdul Mun'Im Muhammad, Kisah Para Nabi dari Ibnu Katsir, Shahih Bukhari dari Imam al-Bukhari dan masih ada yg lainnya. Buku buku umum yg diberikan abi untuk aku baca antara lain The Success Principles dari Jack Canfield, Think and Grow Rich dari Napolion Hill, Giod to Great dari Jim Collin, Great by Choice dari Jim Collin, 7 Habbits dari Steven Covey, 5 Levels of Leadership dari John C. Maxwell, Six Thinking Hats dari Edward de Bono dan beberapa buku soal seni belajar bahasa tubuh, selain itu juga buku biografi dari orang orang dalam sejarah dan buku ekslikopedia dunia.

Abi juga sangat serius mengajarkan pelajaran geografi kepadaku, bukan hanya dengan buku tapi juga melakukan perjalanan jauh, menjelajahi langsung kota kota dan negara negara dibumi ini. Abi mengatakan geografi adalah ilmu para raja raja, karena geografi mengajarkan ilmu tentang ruang, melihat bumi dan seisinya ini dalam kaca mata ruang. Inilah kenapa Abi menekankan kepadaku untuk terus menjajahi negara dan kota kota dimuka bumi ini. Agar aku bisa menganalisa dan mendapatkan hikmahnya. Abi juga mengajarkan pelajaran sastra kepadamu, katanya ilmu sastra adalah ilmu untuk melembutkan hati.

Cara abi mengajar adalah Abi menyuruhku untuk membaca dihadapan Abi, jika ada kata kata yg aku tidak tahu, aku bertanya kepada Abi dan Abi menjelaskan, lalu sesudah membaca aku disuruh menceritakan kembali dengan cara presentasi dihadapan Abi (memakai bahasaku sendiri) kemudian aku menulis apa yg aku presentasikan tadi. Sangat sederhana belajarnya. Mudah diucapkan, sulit dilakukan, karena pelajaran seperti ini, aku baru menyadari kalau membutuhkan konsentrasi pikiran yg sangat besar, jadi sedari awal memang harus niat untuk belajar agar pikiran ikut berkonsentrasi dalam menyerap ilmu.

Ketika dirumah, kesukaan Abi adalah menonton film perang, dan aku pernah bertanya kepada Abi "kenapa kok abi suka menonton film perang?" Lalu abi menjawab, karena didalam perang itu ada dua hal kesimpulannya: siapa yang hidup lebih lama dialah yang menang, dan meskipun dalam kondisi yang tersusahpun, orang yang mempunyai semangat serta harapanlah yang paling banyak berpeluang untuk hidup lebih lama.

Àbi memang beda, kenapa kok Abi berbeda? Karena Abi selalu membuat jarak dengan dunia, kalau kebanyakan orang itu maju maka Abi pasti mundur, kalau kebanyakan orang mundur, maka Abi maju sendirian. Inilah yang mengakibatkan aku adalah salah satu korbannya, karena Abi melihat bahwa sekolah itu tipenya adalah: mengeluarkan lebih banyak untuk mendapatkan yang lebih sedikit.

 Penjelasan kalimat ini adalah karena banyak energi, uang dan waktu yang keluarkan tapi hanya tersisa sedikit dari yang didapatkan, Abiku sering berkata "kita TK 2 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun KULIAH 4 tahun, total 18 tahun, dan pertanyaannya adalah, apakah yang tersisa dari pendidikan kita: apakah yang tersisa dari pelajaran biologi kita selama 18 tahun itu? Apakah yang tersisa dari pelajaran sejarah? Apakah yang tersisa dari matematika kita? Apakah yang tersisa dari pelajaran ppkn kita? Apakah yang tersisa dengan pelajaran IPA kita? Dan apa yang tersisa dari pelajaran bahasa inggris kita selama 18 tahun mempelajarinya? Kebanyakan orang pasti menjawab sangat sedikit yang tersisa, kalau memang sangat sedikit kenapa kita harus memasukinya? 

Kata orang sekolah biar pintar, maka mereka sudah mendapatkanya karena kepintaran diukur dengan nilai, tapi belum tentu pengalaman. Kata orang sekolah agar mendapatkan pekerjaan yang bagus dan mendapatkan banyak uang, tapi pelajaran soal uang dan akhlaq untuk mendapatkan uang tidak pernah diajarkan disekolah. Itulah kenapa ketika banyak orang yang dimasukkan kesana, Abi justru mendidikku sendiri dimana aku mendapatkan seluruh materi untuk hidup, dimana ilmu untuk amal atau karya, bukan ilmu untuk ilmu. 

 Kenapa kok aku sekarang berbeda? Karna aku dididik oleh Abi yang mindsetnya berbeda dan karena Abi juga yang berkuasa dalam keluarga maka akhirnya aku pun juga dikondisikan untuk mempunyai mindset yang berbeda. Abi itu ngobrolnya sangat keras, kalau orang nggak tahu biasanya kelihatan marah, dan kalau Abi menelpon didalam mobil, suaranya terdengar jelas hingga luar. Abi kalau tertawa juga sangat lepas dan terbahak bahak, tanda kalau beliau sangat bahagia, seringnya matanya merem saat tertawa terbahak bahak. 

Disetiap pertemuan dengan siapapun Abi selalu bisa menghibur orang, salah satu ciri beliau adalah memberikan cerita cerita lucu dari kisah kisah penuh hikmah yg membuat orang bisa tertawa terbahak bahak. Abi sering melatih kemandirianku, salah satunya yaitu aku dari rumah ke stasiun purwosari naik gojek sendirian, lalu pergi jogja naik kereta juga sendirian, dan turunnya dari stasiun untuk ke tempat tujuannya juga sendirian. Ketika pertama kali aku berhasil melakukan tantangan ini, aku pernah ditanya oleh Abi tentang perasaanku, lalu menjawab biasa aja, karena aku membayangkan kalau mereka adalah sopir pribadi. 

 Disekarang ini, Abi sudah menganggapku sebagai anak yang sudah balig, dan karena itu, abi memberikan aku ilmu alat yang bisa mendapatkan rezeki dimasa depan nanti, salah satunya adalah jualan online. Itulah sebabnya aku kuliah online sekarang. Abi mempunyai impian yg cukup besar terhadap aku serta adik adikku, yaitu kamu boleh jadi apa saja asalkan kamu bisa menghafal al Qur'an dan bukan hanya sekedar menghafal al Qur'an saja, tapi Abi juga ingin aku meriset surat surat yang ada di al Qur'an agar aku bisa mengetahui hikmah hikmah yang ada didalam al Qur'an. Abi juga mengatakan kamu boleh jadi apa saja asalkan kaya dengan cara yg halal dan toyyib, dan latihlah jiwamu untuk tidak menjadi jiwa orang kikir dengan selalu memberi harta keorang lain terutama orang fakir miskin 

 Soal bisnispun menjadi pembicaraan kita, beliau menjelaskan dengan sangat sederhana bahkan untuk anak 11 tahun sepertiku pun gampang memahaminya setelah abi menjelaskan prinsip prinsip bisnis sebagai berikut: 
 1. Jika ingin bisnis maka carilah pasar yang luas, dengan pasar yang luas, potensi omset akan ikut meluas. Jika diibaratkan, pasar itu seperti angin, produk itu seperti layang layang, kalau ingin layang layang kita cepat naik maka carilah angin yang kuat, kalau anginnya sepoi sepoi, tenaga, waktu, dan biaya akan banyak terkuras untuk menaikkan layang layang kita. Jika anginnya kencang, pasti banyak layang layang yang terbang tinggi. Jika banyak layang layang diatas maka kita butuh pembeda yang membedakan layang layang kita dengan layang layang lainnya. Jika kita beda atau unik maka orang akan bisa melihat layang layang kita dibanding dengan layang layang lain. Untuk mendapatkan pembeda, kaidahnya sangat sederhana, kita hanya perlu menambahkan sesuatu atau mengurangi sesuatu pada produk atau pelayanan kita, pasti itu sudah jadi berbeda, ini sama saja seperti ketika semua orang maju maka kita mundur, kalau semua orang mundur maka kita maju sendirian, hasilnya selalu kita kelihatan sendirian, alias UNIK 
 2. Siapkan aset marketing dan geber habis habisan. Jika sudah ketemu pembedanya maka kita perlu geber habis-habisan. Pegangin terus pembedanya dan sebarkan kebanyak target pasar. Ibarat layang-layang, kita perlu menyiapkan benang yang kuat yang bisa menarik layang layang kita sampai keatas, itu berarti sarana seperti iklan dan pemasaran perlu diperbesar. 
 3. Siapkan tim, bisnis adalah olahraga tim, mencari tim ibarat mencari orang orang yang siap naik gunung. Carilah orang yang bisa memikul beban sampai keatas puncak gunung. Jangan orang yang menjadi sumber beban. Jika kamu ketemu orang dengan karakter sumber beban bukan pemikul beban maka segera keluarkanlah dia dari timmu, seberapapun biaya yang kamu keluarkan untuk mengeluarkan orang ini segeralah keluarkan, jangan pernah tunda-tunda. Cara mencari tim pemikul beban adalah, yang pertama carilah karakternya, karakter pemikul beban, setelah itu baru skillnya, dan setelah itu sering seringlah latih keterampilan timmu itu. 
 4. Bisnis adalah olahraga Scientific. Selalu tulislah yang akan kamu lakukan dan tulislah juga apa yang sudah kamu lakukan. Ini menjadikan dirimu lebih detail melihat data. Ibarat timmu naik gunung, setiap kemampuan pertumbuhan menaiki gunung, itu pasti ada syarat syaratnya dan setiap langkah kemunduran dalam menaiki gunung, itu pasti ada sebab sebabnya. Dua duanya membutuhkan penjelasan-penjelasan dalam bentuk catatan. Di dalam perusahaan Abiku selalu menyebut ini sebagai Managemen. 
 5. Perbaikan terus menerus. Setiap kemajuan dan kemunduran langkah menuju puncak gunung, perlu terus menerus untuk diperbaiki caranya, agar kita bisa menemukan rute ke puncak dengan cara yang paling cepat, paling murah dan paling mudah untuk mencapai puncak gunung itu. Dalam bisnis Abiku menyebut ini dengan "Bisnis Model".
 6. Semua perusahaan butuh pemimpin, dan Abiku menjelaskan sangat mudah soal pemimpin itu. Pemimpin itu adalah pola, seperti menjait baju, kita membuat pola potongan kain untuk dijahit menjadi baju, pola inilah yang akan dicontoh oleh yang lainnya. Pemimpin yang berhasil adalah selain dia bisa membawa tim untuk bertumbuh, ia adalah orang yang mencintai para pengikutnya dan pengikutnya mencintainya. Ia terus mendoakan para pengikutnya dan para pengikutnya mendoakan yang terbaik juga untuk dirinya.

 Abiku memang beda. Jika tentang harta, aku banyak belajar darinya. Beliau adalah orang yg gampang mengeluarkan hartanya kepada orang lain, apalagi kepada orang fakir dan miskin. Aku pernah bertanya kepada Abi, kenapa Abi sangat gampang memberikan harta kepada orang lain? Abi menjawab, "karena Abi merasa sangat dicintai oleh Allah". Aku sangat mengerti arti cinta dikepala Abi adalah sebuah kata kerja untuk selalu memberi persembahan terbaik kepada yang dicintainya. Pemberian itu berupa perhatian dan tanggung jawab, sehingga kalau Abi merasa dicintai oleh Allah S.W.T. maka abi pasti merasa diperhatikan oleh Allah S.W.T dan dengan ini mudah saja aku berkesimpulan bahwa ketika Abi merasa dicintai oleh Allah maka Abi juga harus mencintai seluruh makhluq yang diciptakan oleh Allah.

 Mencintai berarti selalu memberikan yang terbaik kepada makhluq ciptaan Allah S.W.T. Disini aku paham, hanya dengan satu kata cinta ini bisa menggerakkan orang seperti Abiku untuk mudah melepas harta, tenaga dan waktunya untuk orang lain. Abi juga berpuasa daud. Aku sering bertanya, kenapa Abi berpuasa? Abi menjawab ibadah puasa itu adalah ibadah untuk menahan diri supaya kita belajar makna keterbatasan pada diri kita sendiri, sedangkan infak dan shodaqah adalah ibadah untuk memberi, dimana kita sebisa mungkin mengeluarkan tanpa batas dalam memberi kepada orang lain. Abi ingin melatih jiwa Abi dengan cara: terhadap diri sendiri Abi batasi, terhadap orang lain Abi memberi tanpa batas. 

Disinilah aku mengerti mengapa rumah Abi lebih jelek daripada rumah tanteku, rumah amahku dan rumah teman teman Abi yang kaya lainnya. Aku pernah bertanya kepada Abi, untuk mengetahui lebih jelas untuk penjelasan tentang kenapa kok rumah dan mobil kita begini begini aja? Lalu Abi menjawab, "semakin banyak berilmu, semakin sedikit perabotanmu kak." Aku tahu ini bukan pertanda kalau Abi kekurangan. Ada satu ustadz yang bercerita dalam youtubenya bahwa ada murid-murid SD yang disuruh menulis tentang ayahnya, dan hasilnya ternyata banyak anak yg tidak bisa menuliskan cerita tentang ayahnya, karena tidak banyak bahan ilmu yang diberikan Ayahnya kepada anaknya. 

 Berbedalah dengan diriku, diusiaku 11 tahun sekarang ini, beribu ribu kata aku bisa kisahkan cerita tentang Abiku, karena keterbatasan waktu untuk menuliskan tentang Abi sajalah yang membuat tukisanku ini berhenti disini. Dan aku ingin meniatkan untuk menuliskan banyak kitab soal petuah Abiku suatu hari nanti juga sebagai sarat kelulusanku di SD Soekmono Adi. 

 SELAMAT HARI LAHIR 9 DESEMBER, ABI YANG MEMANG BEDA 
 Dan terakhir aku berdoa untuk Abiku. "Ya Allah, aku mencintai Abiku, maka cintailah ia dan cintailah seluruh makhluk yang mencintainya".


Catatan Penyusun:
Buku ini ditulis oleh anak berusia 11 tahun bernama Umar, ttg bagaimana Abinya mendidiknya menjadi seseorang lelaki yg kelak harus bisa bertanggung jawab thd amanah-amanahnya di jaman yang terus mengalami kemajuan yg terkadang tak terbayang oleh akal pikiran kita lagi.

NB: Harga suatu barang apapun mahal atau tidak itu relatif, tergantung sudut pandang masing2, bagi orang yg memang butuh, maka tidak ada istilah mahal. Ada yg bilang, penilaian kita tentang harga suatu barang itu sebenarnya curhatan terselubung para konsumen tentang isi dompet mereka masing2 😊😬✌🏻 

 Seorang lelaki bisa saja terlahir miskin, tetapi seorang Ayah seharusnya pantang bersikap dan bermental 'miskin' dalam mendidik generasi penerusnya. Miskin dalam bidang pendidikan bukan hanya berarti tak mampu menyekolahkan anak, tapi lebih kepada tak mampu meninggalkan WARISAN POLA PIKIR yang baik kepada anak-anaknya tentang bagaimana seharusnya bersikap dalam kehidupan di dunia ini 🙏🏻🙏🏻

 *Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi Sebuah tulisan yg bagus bisa menembus ribuan kepala* (Sayyid Quthb) Menerbarkan inspirasi-inspirasi yg bisa mengubah hidup dan dunia menjadi lebih baik lagi. Aamiin...😇

Tujuan Hidup

Membaca kembali pelajaran yang lalu. @mustamirpedak

Dalam ngaji semalam ada pertanyaan yang barangkali merupakan pertanyaan paling mendasar bagi banyak orang. Mungkin termasuk kamu.

Pertanyaan itu kurang lebih: *apakah tujuan hidup ini?*
Saya sudah menjelaskan berbagai sudut pandang pada ngaji semalam. Tetapi saya ingin memperjelas salah satu sudut pandang yang saya singgung semalam. Sebelum saya menjawab mari kita perjelas dulu tentang suatu hal.

Misalnya kita bertanya: ke manakah tujuanku hari ini. Misalnya kita menjawab: pergi dari Semarang bertujuan menuju Jakarta. Sebelum sampai Jakarta benak kita akan selalu berkata "aku ingin ke Jakarta" dan jika sudah sampai Jakarta maka di benak kita tentu tidak lagi berkata "aku ingin ke Jakarta". 

*Setelah sampai Jakarta tidak lagi kita bertanya "ke mana tujuanku pergi".* Yang ingin saya katakan adalah bahwa ciri orang yang sudah sampai tujuan adalah dia tidak lagi bertanya tentang tujuan. *Orang yang sudah sampai tujuan adalah orang yang tidak lagi bertanya tentang tujuan.* Bukankah demikian? 

Silakan baca berulang-ulang agar kamu memahaminya. 

Maka saya menjawab: *tujuan hidup adalah kita tidak lagi bertanya tentang tujuan hidup.* Betul, kan? Bukankah demikian? Seperti contoh di atas tujuan ke Jakarta adalah agar "tidak bertanya ke mana tujuanku pergi".

Sekarang akan muncul pertanyaan: *bagaimana caranya agar kita tidak lagi bertanya tentang tujuan hidup?* Semalam sudah saya jelaskan yakni dengan: *menikmati sepenuhnya hidupmu.* 

Saya telah memberi contoh sebagai berikut: suatu saat saya mengajak anak saya pergi ke sungai. Anak saya akan bertanya: untuk apa kita ke sungai, Ayah? Saya menjawab: untuk bermain di sungai. Dia akan bertanya lagi: Untuk apa bermain di sungai? Pertanyaan itu akan terus berada di benaknya sebelum sampai di sungai. Setelah sampai di sungai anak saya bermain dengan penuh suka cita. Dia menikmati gemericik suara airnya, kelembutan pasirnya, dingin airnya. Berdeburan di sungai. Berenang, melompat-lompat kegirangan. Dia benar-benar menikmati sepenuhnya indahnya bermain di sungai. 

Pertanyaan saya: *saat dia dengan penuh sukacita menikmati permainan di sungai itu masihkah terlintas di pikirannya: APA TUJUAN BERMAIN DI SUNGAI?* Jawabannya: tidak. Anak saya tidak akan bertanya lagi: untuk apa bermain di sungai.

Maka... *Nikmatilah seluruh realitas hidupmu sepenuh-penuhnya maka kamu tidak akan bertanya: APA TUJUAN HIDUPKU? Saat itu tujuan hidupmu telah tercapai.*

Suami Istri Hanyalah Obat?

@mustamirpedak

Tanya: Mengapa pernikahan yang awalnya saling mencintai malah akhirnya *justru saling menyakiti?* Jawab: Itu karena mereka *menganggap bahwa pasangannya adalah syarat kebahagiaannya.* 

Pasangannya dianggap sebagai obat penderitaannya. 

Tanya: Maksudnya?
Jawab: Mereka menganggap bahwa kebahagiaan itu jika pasangannya sesuai dengan kehendak egonya. Jika pasangannya tidak sesuai kehendak egonya maka dia menderita.

Tanya: Bukankah seharusnya memang begitu?
Jawab: Kalau begitu itu *belum mencintai pasangan tetapi egoisme mencintai diri sendiri.* Itu sikap menang sendiri yang ditutupi oleh kata-kata cinta. Jika seseorang menganggap pasangan hidupnya adalah syarat kebahagiaannya maka itu sama saja menganggap pasangannya adalah obat penghilang rasa sakitnya. Dan jika obat itu ternyata tidak manjur lalu dia marah kepada obatnya itu. Lalu dia marah dan menuntut pasangan itu berubah. Mungkin bisa tetapi jika ternyata pasangannya tidak berubah maka kemarahannya akan semakin meninggi. *Saat itu akan hanya ada ketegangan dan ketegangan.* 

Tanya: Lalu bagaimana agar tidak terjadi ketegangan itu?
Jawab: Kembalilah kepada kesadaran sejati. Kesadaran bahwa dirimu adalah dirimu. Kamu bukan pikiranmu. Kamu bukan perasaanmu. Kamu adalah kamu. Hanya dengan kesadaran sejati itu kamu akan mengakses Sumber Kebahagiaan Sejati. *Saat itu kebahagiaanmu tidak tergantung kepada apa yang ada di luar dirimu.* Kamu akan senantiasa damai. Dan jika kamu damai maka ketegangan-ketegangan dalam hubungan suami istri malah justru menjadi pupuk kasih sayang di antara mereka. 

*Jika kamu damai maka kamu tidak akan pernah kehabisan kasih sayang: untukmu dan untuk pasanganmu.*

Monday, December 7, 2020

Kematian dan Energi Kehidupan

@mustamirpedak

Pertama. Ada orang yang hidup berdasarkan energi kasih sayang, suka cita, dan rasa syukur. Mereka menikmati hidupnya. Orang-orang ini dipenuhi kedamaian kehidupan dan tidak terjajah ketakutan kepada kematian. Mereka puas akan hidupnya dan menyadari bahwa kematian adalah cara alam semesta menjaga keseimbangannya. Bagi mereka kematian adalah amal shalih.

Kedua. Ada orang yang hidup berdasar energi kemarahan, balas dendam dan egoisme. Mereka tersiksa dalam hidupnya. Hidupnya dalam neraka penderitaan. Mereka hidup demi kepuasaan materi, pembuktian, pembalasan dendam dan genggaman terlalu kuat kepada materi. 

Orang-orang jenis ke dua ini sering mengalami kesulitan dalam ajalnya. Dalam sakaratul mautnya energi kehidupan yang negatif itu menghalang-halanginya menuju haribaan-Nya. Saat Izrail akan mencabut nyawanya energi negatif itu membujuknya untuk berkata dan melawan, "TIDAK. AKU INGIN DI DUNIA. AKU INGIN TERUS MEMILIKI SEMUA INI!!"

3 mingguan yang lalu saya meruqyah bapak-bapak 75th-an dengan keluhan:

1. Terbakar cemburu karena mantan istrinya mau menikah lagi.

2. Dalam situasi buruk masalah warisan.

Bapak ini tampak sehat-sehat saja padahal sebenarnya fisiknya sangat rapuh. Dia masih terus tampak sehat karena energi negatif terus memberinya energi kehidupan. Tetapi hidup dalam penderitaan luar biasa. 

Ketika ruqyah saya sampaikan hakikat-hakikat kehidupan dan makna kematian. Betapa pentingnya pelepasan cinta buta kepada dunia. Si Bapak, atas kehendak-Nya,  rupanya begitu menghayati apa yang saya sampaikan hingga menitik air matanya.

Beberapa hari kemudian Si Bapak sakit dan beberapa hari kemudian Si Bapakpun meninggal dengan wajah tersenyum. 


Pesan:

Jika kamu terlalu menggilai dunia maka dia akan jadi api penderitaan yang tergenggam di tanganmu. Kamu mungkin menggenggamnya tapi kamu menderita karenanya.

#mustamirpedak 

#ngajibahagia

#ngajibarengpakmus


NB. Kepasarahan itu memberikan energi yang besar

Thursday, December 3, 2020

Peluk Saja, Dekap Saja

 Peluk Saja, Karena Anda Tidak Pernah Tahu Seberat Apa Beban yang Dihadapi Pasangan Anda

@ Cahyadi Takariawan

Setiap istri menghendaki suami yang fresh dan ceria ketika tiba di rumah. Suami yang penuh senyum ceria, yang kata-katanya selalu mesra dan menyejukkan jiwa. Suami yang nyaman diajak bicara serta bercanda tawa. 

Para istri tidak suka melihat suami yang datang dengan penuh beban di wajah, serta mendung yang menggelayuti pikiran. Apalagi suami yang galak dan penuh kemarahan serta kekasaran. Membuat istri menjadi ketakutan dan tidak aman saat berada di dekat suami.

Namun jangan anda berpikiran negatif dan menghakimi suami, saat ia hadir dengan penuh beban dan kelelahan. Tidak seperti harapan anda. 

Sungguh anda tidak pernah tahu sehebat apa “perang” yang seharian dihadapinya. Mungkin ia tidak ingin berbagi beban pikiran kepada anda, khawatir membuat anda ikut terbebani. Ia ingin menanggung dan menghadapinya sendiri.

Bisa jadi, ini adalah hari berat baginya. Mungkin tengah ada bertumpuk-tumpuk persoalan, kekecewaan, dan pertarungan. Mungkin tengah berkecamuk berbagai masalah yang belum mampu ia selesaikan dari tempat pekerjaan. 

Mungkin tengah ada suasana ‘perang’ yang harus ia hadapi sendiri. Maka ia pulang dengan sepenuh lelah dan benar-benar ingin istirah. Pengertian dan maaf anda akan sangat melegakan baginya.

Demikian pula, setiap suami menghendaki istri yang ceria dan siap melayani dirinya ketika tiba di rumah. Istri yang hangat bersahabat, melayani suami dengan semangat. Istri yang enak dilihat dan telah menhadirkan kegembiraan hanya karena melihat. 

Para suami tidak suka melihat istri yang enggan menyambut kedatangannya. Tidak suka pula melihat istri yang menyambut suami dengan sepenuh omelan dan kerumitan persoalan. Apalagi istri yang pemarah dan mudah emosi, membuat suami tidak happy saat di sisi.

Namun jangan anda berpikiran negatif dan menghakimi istri, saat ia tampak kusut penuh beban dan kelelahan. Tidak tampak kesegaran seperti harapan anda. 

Sungguh anda tidak pernah tahu sehebat apa “perang” yang seharian dihadapinya. Mungkin ia tidak ingin berbagi beban pikiran kepada anda, khawatir membuat anda ikut terbebani. Ia ingin menanggung dan menghadapinya sendiri.

Bisa jadi, ini adalah hari sangat berat dan sangat melelahkan baginya. Mungkin ada sangat banyak persaingan, sangat banyak konflik tengah ia hadapi. Mungkin ada berbagai harapan yang tak ia dapatkan, atau kerepotan yang tak mampu ia selesaikan.

Semua menjadi beban yang bertumpuk-tumpuk, dan berkecamuk menjadi peperangan hebat di dalam dirinya. Maka ia tampil dengan wajah lelah dan tak bergairah. Pengertian dan permakluman anda akan sangat bermakna baginya.


Peluk Saja, Dekap Saja

Dalam situasi itu, peluk saja pasangan anda. Dekap yang erat. Ia akan sangat nyaman mendapatkan pelukan hangat anda. Semua emosi negatif segera larut pelan-pelan. Berbagai beban terasa semakin meringan, karena mendapatkan pengertian. 

Tanpa harus berkata-kata, pelukan itu memiliki sangat banyak makna. Lebih dalam daripada sekedar bertanya, “Mengapa wajahmu gelap seperti langit di malam kelam?” Atau, “Mengapa tak ada senyum untukku?”

Pelukan anda, jangan hanya sesaat. Lakukan pelukan yang dalam, antara 3 sampai 5 menit. Peluk pasangan anda, dekap tubuhnya, elus-elus punggungnya, belai rambutnya. Itu semua adalah bonding yang sangat bermakna. 

Seakan-akan meneguhkan cinta dan kasih sayang anda, tanpa melalui banyak pertanyaan dan apalagi perdebatan. Tak ada tuduhan, tak ada vonis dan tudingan. Pelukan telah memberikan pesan yang sangat kuat, bahwa aku menerima kondisi dirimu, apapun itu.

Anda tidak akan mampu mengukur beban yang tengah dihadapi pasangan. Anda tidak akan mampu mengetahui sehebat apa perang yang tengah berkecamuk di pikirannya. Anda tidak pernah tahu hal apa saja yang bergelayut di dalam jiwanya. 

Untuk itulah, tak perlu banyak bicara. Tak perlu banyak bertanya. Jika mengetahui beban yang menggelayut pada penampilan pasangan, segera peluk dirinya, Segera dekap dengan sepenuh ketulusan dan kehangatan.

_

Menangkan Dulu Hati Lelaki Kita

Di sebuah acara “reality show” Indonesia, seorang lelaki botak yang juga mentalis terlihat mewawancarai bintang tamunya. Begini kalimat pembukanya “Menjadi istri yang baik atau ibu yang baik?”

Sayangnya saya tidak mengikuti acara tersebut.  Sudah dua tahun terakhir ini rumah kami bebas televisi. Cuplikan acara tersebut saya temui di beranda akun media sosial seorang teman. Saya tertarik membahasnya karena kajian ini persis dengan tema yang saya dapat beberapa bulan lalu.

Kalian tahu apa jawaban pertanyaan yang awalnya membingungkan saya itu?  Padahal ada satu kitab ajaib yang sudah menjelaskan secara apik jawabannya. Alquran berbicara tentang perempuan. Dia adalah kunci segalanya. Kebaikan keluarga, masyarakat, dan negara. Masih di dalam kitab yang menakjubkan itu perempuan dalam hal perannya dibagi menjadi empat bagian berdasar prioritas terbaiknya. Pertama, sebagai istri. Kedua, sebagai ibu. Ketiga sebagai pribadi. Terakhir, peran sosial.

Diantara keempat hal tersebut, alquran paling banyak bercerita tentang kiprah perempuan sebagai istri. Dan yang minim adalah kiprahnya dalam bidang sosial. Maka yang hari ini masih disibukkan oleh berbagai aktifitas yang manfaatnya hanya berdampak bagi dirinya sendiri sebaiknya segera berbenah. Begitu pula para “sosialita” diminta untuk berpikir ulang tentang perannya jika menginginkan dari rahimnya lahir generasi mulia.

Perhatikan urutan dominannya baik-baik. Ketika kita coba untuk membaliknya atau menggeser letaknya sekehendak nafsu kita, maka yang terjadi adalah tumbuhnya anak-anak yang bermasalah.

Jadi ketika ditanya “Menjadi istri yang baik atau ibu yang baik?”. Maka jawabannya adalah istri yang baik. Itu adalah tingkatan peran teratas. Selesaikan dengan baik bagian ini. Berikan pengabdian istimewa untuk suami. Lalu perhatikanlah kemudian tugas perempuan sebagai ibu akan dengan mudah dijalani.

Inilah jawaban kenapa sebuah rumah yang “broken home” akan sulit sekali melahirkan anak-anak yang kokoh kepribadiannya. Karena tak lain, ia tak mendapatkan teladan itu di rumahnya. Tempat di mana kegemilangan generasi itu bermula.

Beberapa kali saya menemui kasus perempuan yang abai pada suaminya setelah hadirnya anak-anak. Mereka menganggap peran suci sebagai ibu di atas segalanya. Kemudian menuntut suami untuk paham bahwa kini sudah hadir makhluk kecil yang patut diprioritaskan dari pada suami. Ternyata ini keliru, perempuan cenderung mengikuti perasaannya untuk terus dipahami. Lihat saja betapa banyak literasi yang membahas tentang betapa peliknya peran perempuan sebagai istri dan ibu sekaligus. Bahkan lengkap dengan sajian data bahwa peran ini rawan depresi. Sampai pada kasus bunuh diri. Terus diulas gangguan psikologis yang sering sekali terjadi pada mereka.

Saya tak hendak menafikan fakta tersebut, tetapi saya ingin setiap wanita paham tentang urutan prioritas yang telah dirumuskan wahyu. Bukankah kita tak pernah ragu bahwa Al Aur'an itu adalah sebenar-benar petunjuk?

Seperti nasihat yang disampaikan ustazah saya di suatu siang ketika membahas tentang pengasuhan anak. “Sajikan pengabdian dan bakti terbaik yang bisa kita lakukan kepada suami, maka perhatikan keajaiban yang akan terjadi. Pengasuhan anak-anakpun menjadi kian mudah”.

Berapa banyak kejadian emak yang temperamen kepada anak-anaknya hanya karena masalahnya dengan suami yang belum selesai. Maka sekali lagi, perhatikan prioritas penting ini ya Mak. Menangkan dulu hati lelaki kita.

Adalah tak mudah mencari tulisan dari lelaki yang mengulas tentang ini. Jikapun ada, maka ini tema yang tak menarik. Kurang dramatis. Bagi perempuan yang kapasitas perasaannya lebih mendominasi, menganggap hal ini adalah “lebay”. Makanya kemudian mereka menjuluki suami sebagai “bayi besar”.

Saya tertarik sekali dengan pengalaman seorang teman ngaji yang ikut suaminya tugas belajar tinggal di Jeddah. Maka hal pertama yang saya tanyakan padanya waktu itu adalah “Wah.. enak ya kalau akhir pekan bisa sering-sering ke Mekkah buat umrah, terus ramadhan juga bisa iktikaf di masjidil haram”. Mengingat jarak antara kedua kota itu tak begitu jauh.

Saya sukses melongo ketika ia menjawab “Nggak juga, aku tuh gak enak mikirin ibadah sunnah, sementara yang wajib terbengkalai”.

“Maksudnya?” tanya saya bodoh.

“Iya.. hatiku nggak plong gitu kalau pergi iktikaf ataupun umrah sementara suami di sini makan minumnya gimana? yang nyiapin bajunya siapa? ininya terus itunya?”

Jleb!

Dan pikiran egois saya langsung meleleh takjub. Masya Allah..

Dialog lain yang terjadi belasan tahun silam antara saya dan dosen tingkat pertama di bangku kuliah dulu juga masih begitu melekat erat. Ketika beliau mengkhawatirkan gelar paska sarjana dan penghasilan bulanannya berada di atas gelar dan gaji sang suami.

“Aku khawatir gelar dan penghasilan ini menghalangiku dari bakti pada suami”.

Sungguh kesadaran yang keren pada zaman di mana perempuan hari ini ribut menuntut kesetaraan gender dalam bungkus kemasan emansipasi yang salah kaprah. Dan bangga dengan kemampuan dirinya yang bisa mandiri menghasilkan sejumlah rupiah dari keringatnya sendiri. Perlahan ketundukan dan ketaatan pada suami sedikit demi sedikit tergerus. Ini keniscayaan. Hukum alam kepada mereka yang di dalam hatinya bersemayam biji kesombongan dan jauh dari majelis ilmu.

Betapa seringnya kita, eh saya maksudnya merasa segala pekerjaan melayani suami dari mulai menyiapkan hal-hal kecil itu adalah pekerjaan sepele. Dan berpikir keras mengejar amalan lainnya. Kehadiran bayi dan suami seperti penghalang antara diri kita dan ibadah yang nyaman. Bagaimana sulitnya mencari waktu untuk sekadar tenang membaca alquran tanpa interupsi ini dan itu. Bangun tahajud susah waktu si bayi bentar-bentar bangun malam minta Asi. Padahal syarat masuk surga seorang istri itu tak disebut harus tahajud atau tadarusan.

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

Coba perhatikan lagi hadits yang luar biasa ini. Ah, semoga kita tidak termasuk istri yang “ngeyelan” sampai “ngambekan” hanya gara-gara menganggap amalan masa lajang dulu jauh melesat pencapaiannya dibanding ketika kita menjadi “emak-emak”.

Camkan lagi kata-kata terakhir dari sabda Sang Nabi tersebut, : “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”.

Ganjaran keren yang bagaimana lagi coba yang mau kita kejar?


Taubat yuk Mak!


By. Fri Okta Fenni

Banda Aceh, 17 Januari 2019

Menebarkan Himah dan Memercikkan Semangat

 Bismillahirrahmanirrahim...


Alhamdulillahirabbil'alamiyna, puji syukur kehadirat Allah SWT Sang Penguasa Alam Semesta. Atas karunianya, terpeciklah sebuah ide untuk membuat blog ini yang inysaAllah isinya berupa kumpulan tulisan-tulisan penyemangat yang saya kumpulkan dari berbagai sumber, terutama tulisan hasil sharing dalam grup WhatsApp. 

Sebagaimana kita tahu, sekarang ini kita berada dalam sebuah jaman dimana arus informasi sangat deras bagaikan air bah. Kita dengan mudahnya mendapatkan informasi yang kita inginkan daalam sekejap mata, lewat perantara ponsel pintar alias samrtphone, jaringan internet yang stabil dan situ-situs online yang sangat beragam di dunia maya.

Ya, segala hal yang ada atau terjadi pasti ada plus minusnya juga. Terkadang, banjir informasi bisa membuat kita "mabuk" juga. Tetapi disisi lain, adakalanya informasi yang kita terima memang benar-benar sangat membantu, sangat pas dan relevan dengan kondisi kita saat itu. Maka, informasi yang kuta terima bisa menjadi sesuatu yang berharga dan  berkesan dalam diri kita.

Nah, begitupula yang saya rasakan. Adakalanya saya menerima sebuah informasi, baik berupa flyers, status story WA, tulisan, kutipan, yang memang sangat pas dengan situasi dan kondisi saya pada saat itu, sehingga, informasi itu memberi kesan tersendiri.

Bagi saya pribadi, informasi berharga yang saya terima saat itu saya yakini sebagai kasih sayang dan perpanjangan tangan Allah lewat perantara-perantara hambaNya yang sholih sholihah. Masya Allah tabarakallah. Hal itu memercikkan semangat dalam diri saya atas tantangan hidup yang sedang saya hadapi. 

Adakalanya informasi yang saya terima berupa sebuah kisah yang sarat dengan hikmah, yang bisa menjadi cerminan bagi diri saya sendiri atas tantangan hidup yang sedang saya jalani. Dari situ, saya bisa belajar banyak hal. Seperti kata pepatah. Pengalaman (baik pengalaman pribadi maupun orang lain) adalah sebuah guru yang terbaik.

Begitulah. Saya pun ingin sekadar membagi manfaat, menebar hikmah dan memercikkan semangat atas apa yang telah saya dapat. Semoga bermanfaat.

Saya memposting sebagian kutipan di akun instagram @ngajibarengpakmus, silahkan di follow, karena salah satu Guru Kehidupan saya adalah beliau Pak Mustamir Pedak atas nasehat-nasehat dan kutipan beliau yang saya pribadi merasa cocok, jadi saya simpan di instagram. Dalam blog ini, saya menyimpan tulisan-tulisan yang panjang yang sekiranya tidak bisa saya posting di akun instagram tersebut.

Terima kasih. Jazakumullahu khoiran katsira atas perhatiannya.


Salam Semangat!

Jenis-jenis Pejalan Spiritual

 JENIS-JENIS PEJALAN SPIRITUAL #mustanirpedak 1. PEJALAN KEHEBATAN Mereka adalah orang yang ngaji demi mencari kekuatan/energi bersumber dar...