Wednesday, December 9, 2020

Sumber Penderitaan: Konflik Dalam Diri

 Membaca kembali pelajaran yang telah lalu.

@mustamirpedak


Berikut ini saya tuliskan dialog saya dengan seorang ibu muda yang diibakar rasa cemburu. Menurut cerita beliau si suami sudah berulang kali selingkuh bahkan sudah sampai kepada perbuatan terlalu jauh (saya tidak perlu menjelaskan di sini). 

Tolong perhatikan dialog saya dan ibu muda tersebut. Sebagai seorang guru saya tidak dalam posisi mengubah suaminya. Saya akan lebih fokus kepada perubahan pada diri ibu tersebut. Seorang guru harus selalu berprinsip bahwa kedamaian hati tidak pernah bersumber dari luar diri. Dia berasal dari dirinya sendiri.


BERIKUT DIALOGNYA:

Tanya: Pak, saya mau tanya kalau pas saya melihat suami saya chatingan dengan orang lain saya masih emosi,  marah, cemburu, saya sudah istighfar tetep saja masih. Sampai saya mau ngunek nguneke (marah dengan kata-kata kotor) suami saya. Cara mengontrol emosi ini bagaimana, Pak?

Jawab: Menurut njenengan emosi itu bermanfaat nggak, Mbak?

Tanya: Menurut saya ada, Pak.

Jawab: Kalau ada manfaatnya ya berarti marah itu nggak apa-apa, Mbak.

Tanya: Saya masih susah mengontrol emosi marah, benci, dan cemburu, Pak. Pengen saya lepaskan.

Jawab: Kalau dilepaskan nanti nggak dapat manfaatnya lho, Mbak.

Tanya: Kalau saya pendam hati saya sakit, Pak

Jawab: Kenapa dipendam, Mbak?

Tanya: Saya malah bingung, Pak. Dilepaskan nggak boleh dipendam juga nggak boleh. Lha terus gimana?

Jawab: Hehe. Ini bukan saya yang menyuruh memendam atau melepaskan lho, Mbak. Menurut njenengan sendiri ada manfaatnya dan juga menurut njenengan sendiri dipendam sakit. Jadi bukankah njenengan sendiri yang harus tegas, Mbak: mau melepas marah atau tetap marah?

Tanya: Terus gimana, Pak?

Jawab: Sebenarnya yg bikin susah itu konflik dalam diri njenengan sendiri antara: ingin marah dan ingin melepas marah. Betul nggak, Mbak?

Tanya: Bagaimana Cara melepas marah, Pak?

Jawab: Jadi ingin yang mana, Mbak? Haha.

Tanya: Saya ingin melepasnya, Pak.

Jawab: Seriusss??

Tanya: Nyesek di dada, Pak. Saya ingin tenang.

Jawab: Bisa jadi jadi nyeseknya itu bukan karena marah, Mbak.

Tanya: Lha Karena apa, Pak?

Jawab: Banyak orang merasa nyesek itu karena konflik dalam diri njenengan sendiri yaitu: antara ingin marah dan ingin tidak marah, Mbak.

Tanya: Saya ingin sekali tidak marah, Pak. Tapi kalau dipicu otomatis kemarahan saya bisa keluar.

Jawab: Mari mencoba menyelesaikan konflik dalam diri sendiri, Mbak. Seseorang marah karena dia mengizinkan dirinya marah. Seseorang tidak marah karena dia mengizinkan dirinya tidak marah. Problemnya adalah sering konflik antara ingin marah dan tidak ingin marah. Konflik inilah yang menimbulkan ketidaknyamanan itu, Mbak. Jika njenengan kersa hayati betul kata2 saya ini, Mbak: ketenangan tidak pernah bersumber dari luar. Dia berasal dari diri kita sendiri.

Tanya: Nggih, Pak.


Tambahan:

Menyiksa Diri Sendiri

Iri dengki, dendam kesumat, kekecewaan, atau kesedihan sesungguhnya menyakiti diri sendiri. Itu semacam kejahatan kepada diri sendiri.

Jika kamu disakiti orang lain kamu mungkin bisa menghindar. Tetapi jika kamu menyakiti dirimu sendiri mustahil kamu menghindarinya.

Ini rumus sederhana yg sering terlupakan:

Kamu berkewajiban berusaha menjadi baik bukan menjadi TAMPAK baik.

Tanya: Cara mengatasinya gimana pak?, seringkali sifat2 tsb datang menghantui tanpa bisa diduga kapan momennya

Jawab: Seringkali tanyakan kepada diri sendiri:

"Untuk apakah iri dengki ini?"

"Untuk apakah kekecewaan ini?"

Dst.

Cukup tanyakan dan selalu tanyakan.

Maka lambat laun perasaan2 negatif spt itu akan terkikis bahkan tanpa kita sadari.

#mustamirpedak

#ngajibahagia


Catatan Penyusun:

Konflik ego, pikiran dan perasaaan itu memang akan terus ada dalam diri selama kita masih bernafas, yang perlu kita lakukan adalah belajar untuk mengontrolnya agar jangan sampai dikuasai oleh emosi yang tak terkendali. Wallahu 'alam.

No comments:

Post a Comment

Jenis-jenis Pejalan Spiritual

 JENIS-JENIS PEJALAN SPIRITUAL #mustanirpedak 1. PEJALAN KEHEBATAN Mereka adalah orang yang ngaji demi mencari kekuatan/energi bersumber dar...