Sunday, January 31, 2021

Menjaga Emosi

#mustamirpedak

#ngajibahagia


Di ngaji offline kemarin saya menyampaikan beberapa hal:

1. Latihan dasar memasang tombol on/off di pikiran.

2. Strategi emosi agar tetap dalam batas wajar.


Kali ini akan saya sinopsiskan poin yang ke dua.

Yang harus kita pahami adalah bahwa emosi, entah negatif atau positif, sesungguhnya bawaan kemanusiaan. Tentu dengan catatan: asal tidak berlebihan.

Pertanyaan yang pasti muncul adalah: yang berlebihan itu bagaimana?

Emosi itu masih wajar jika emosi itu masih berada di ruang perasaan dan tidak menyentuh apalagi memukul ke-aku-an.


Contoh:

Seorang guru menasihati muridnya yang bandel. Marah itu sebenarnya wajar karena keinginan perbaikan. Tetapi jika kemarahan itu seperti "Aku ini guru. Kamu harua dengarkan nasihatku". Kata-kata "aku ini guru" artinya kemarahan itu sudah menyentuh egonya (identitasnya). Inilah kemarahan yang berlebihan itu. 

Sedih karena dihina misalnya. Kita wajar saja jika sedih tetapi tidak perlu mengatakan "Aku ini lebih tua kok dihina". 

"Aku ini ustadz kok nggak dihargai"

"Aku ini pinter kok gagal"

"Aku ini sudah menolong dia kok dia membalasnya kayak gini"

Dlsb. 


Emosi negatif yang menyentuh ego seperti ini adalah emosi-emosi negatif yang berlebihan. 

Jadi kalau memang ingin marah ya marah saja tapi tidak perlu tersentuh ego/identitas dirimu.

Kalau mau sedih ya sedih saja. Mau kecewa ya kecewa saja. 

Asal tidak menyentuh ego/identitasmu.


Catatan:

Emosi yang menyentuh ego/identitas diri hampir selalu mengganggu JANTUNG.


Penderitaan Jantung bisa disebabkan oleh semua jenis emosi.



Tanya: Ustadz, bagaimana cara memasang tombol on off di pikiran kita? Apakah ada kaitannya dengan ketenangan qolbu kita? 🙏

Jawab : Qolbu dipengaruhi pikiran, Mas.

Biarin Saja

#mustamirpedak

#ngajibahagia 


Tadi pagi saya mendampingi anak menghapal nama harakat dalam tulisan Arab: fathah, kasrah, dhammah, sukun, fathah tanwin, dlsb. Cukup cepat dia menghapal kecuali di dhammah. Sudah diulang-ulang pun tetap belum hapal. Bahkan anak saya sampai teriak-teriak "dhammah dhammah dhammah!" agar ingat tetapi beberapa saat kemudian tidak ingat lagi.

Saya melihat ketegangan di wajahnya, mungkin, karena jengkel kok belum hapal-hapal dhammah. Melihat ketegangan itu saya melakukan upaya unik untuk membantunya. Sambil menunjuk dhammah saya berkata: "Ini dhammah. Tidak usah diingat-ingat lho!"

"Tidak usah diingat-ingat, Yah?"

"Tidak usah diingat-ingat dhammah ini. Biarin saja lupa dhammah."

"Lha nanti kalau dimarahin guru gimana?

"Cuma lupa dhammah thok nggak apa-apa" 

Setelah itu, uniknya, dia langsung hapal harakat dhammah. Hehehe... 

Begitulah uniknya manusia. Saat dia disuruh ingat malah lupa. Saat disuruh lupa malah ingat.

Secara psikologis sesungguhnya hukumnya mirip-mirip juga. Jika seseorang ingat peristiwa buruk dan ingin melupakannya justru ingatan itu semakin kuat dan semakin kuat. Sebaliknya ketika disuruh mengingat peristiwa-peristiwa baik justru melupakannya. 

Kuncinya adalah rileks (tidak tegang). Semakin tegang kita semakin gagal. Dan ketegangan itu seringkali karena kamu terlalu menginginkannya.

Jadi kalau sedih tidak perlu ingin tidak sedih. Biarin saja kesedihan itu...

Kalau marah tidak perlu ingin tidak marah. Biarin saja marah itu...

Biarin saja...


Tanya: Mkny pak ustadz saat ingin melupakan hal buruk kok mlh ingat terus ma sya Allah ternyata rumusny sprti it 😊

Jawab: Sabar itu keindahan jadi tidak harus diharuskan. Menikmati keindahan itu sifat azali manusia, Pak.

Izinkan kesabaran hadir otomatis.

Saturday, January 23, 2021

Intermezzo Pandemi (Dulu... dulu... dulu...)

 Dulu.....dulu......dulu..... dulu....

1. Dulu IMAN yang harus kuat, sekarang IMUN yang jadi fokus. (Dunia sedang waspada).

2. Dulu kalau orang bersin bilang Alhamdulillaah, umur panjang. Sekarang orang bersin....., dianggap sedang sakit dan membawa malapetaka. (Dunia sedang terguncang).

3. Dulu bersatu kita teguh, Sekarang berkumpul kita runtuh. (Dunia sudah lain).

4. Dulu ada tamu, senang karena dianggap bawa rizki. Sekarang ada tamu dianggap bawa penyakit. (Dunia Sudah Payah).

5. Dulu kalau ketemu jabat tangan, sekarang ketemu angkat kaki (cepat pergi). (Dunia sedang sakit).

6. Dulu parfum yang kita bawa di tas, sekarang hand sanitizer spray yang dibawa. (Dunia sedang dilanda ketakutan).

7. Dulu senyum yang dibagikan, sekarang masker yang dibagikan. (Dunia dilanda kesulitan).

8. Dulu kata "NEGATIF" tidak bagus, sekarang kata "POSITIF" tidak bagus. (Dunia sedang galau).

9. Dulu pulang membesuk orang tua membawa kebahagiaan, sekarang membesuk orang tua disangka membawa penderitaan. (Dunia Sudah Aneh).

10. Dulu cuci tangan untuk makan, sekarang di mana-mana di suruh cuci tangan, tetapi tidak dikasih makan..(Dunia sudah terbalik).


DUNIA SUDAH BERUBAHHH....!

Benar juga, tiada yang abadi dalam hidup ini.

😭😭😭

Senyum dulu sejenak yow, hehehe... 

Anak-anak yang Mati Rasa

Oleh : Moh. Fauzil Adhim


Kelak akan tiba masanya, seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, orangtua berpayah-payah mendidik anak, tetapi anaknya memperlakukan emaknya seperti tuan memperlakukan budaknya. Dan aku takut peristiwa itu akan terjadi di masa ini, masa ketika anak-anak tak mengenal pekerjaan rumah-tangga, dan pesantren maupun sekolah-sekolah berasrama lainnya tak lagi menjadi tempat bagi anak untuk belajar tentang kehidupan. 

Anak-anak itu belajar, tetapi hanya mengisi otaknya dari pengetahuan yang dapat diperoleh dari text book dan google. Sementara tangannya bersih tak pernah mencuci maupun melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik lainnya, sehingga empati itu mati sebelum berkembang. Tak tergerak hatinya bahkan di saat melihat emaknya kesulitan bernafas seumpama orang hampir mati disebabkan ketuaan atau sakitnya kambuh, tetapi anak tak bergeming membantunya. Apalagi berupaya melakukan yang lebih dari itu.

Aku termangu mengingat nasehat Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengenai tanda-tanda hari kiamat, salah satunya dari hadis panjang yang kali ini kita nukil ringkasnya:

.

سَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتِ الْمَرْأَةُ رَبَّتَهَا

Aku akan memberitahukan kepadamu tanda-tandanya; jika seorang (sahaya) wanita melahirkan tuannya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

.

Ibunya bukanlah seorang budak. Bukan. Ibunya orang merdeka. Tetapi anak-anak itu tak tersentuh hatinya untuk cepat tanggap membantu ibunya. Padahal membantu saat diminta adalah takaran minimal bakti kepada orangtua. Takaran di atas itu, tanpa diminta pun ia sudah tergerak membantu. Dan di atasnya lagi masih bertingkat-tingkat kebaikan maupun kepekaan seorang anak tentang kebaikan apa yang sepatutnya ia perbuat terhadap kedua orangtuanya.

Ada yang perlu kita renungi. Ada airmata yang perlu mengalir, menadahkan tangan mendo’akan anak-anak dan keturunan kita, menangisi dosa-dosa, berusaha memperbaiki diri dan tetap tidak meninggalkan nasehat bagi anak kita karena ini adalah haknya. Nasehat. Ia adalah kewajiban kita untuk memberikannya meskipun mereka tak memintanya. Kitalah yang harus tahu kapan saat tepat memberikan nasehat sebab semakin memerlukan nasehat, justru kerapkali semakin merasa tak memerlukan nasehat.

Hari ini, betapa banyak anak yang di sekolah berasrama tak diajari mengurusi kehidupan pribadinya karena makanan siap saji setiap waktu makan, hanya perlu berbaris untuk mengambilnya. Sedangkan pakaian pun tak perlu ia menyempatkan waktu mengatur jadwal agar bersih saat mau digunakan, karena sudah ada laundry, sementara tugas sekolah tetap tertunaikan. Tidak terbengkalai. Maka di saat mereka pulang, kita perlu melatih tangan dan juga hatinya agar tanggap. Bukan menyerahkan begitu saja kepada pembantu. Tampaknya ini hanya urusan pekerjaan rumah-tangga yang sepele, tetapi di dalamnya ada kecakapan mengelola diri, mengatur waktu dan lebih penting lagi adalah empati.

Apakah tidak boleh kita menggembirakan mereka dengan sajian istimewa saat mereka pulang dari pesantren? Boleh. Sangat boleh. Tetapi hendaklah kita tidak merampas kesempatan mereka untuk belajar mengenal pekerjaan rumah-tangga, menghidupkan empati dan mengasah kepekaannya membantu orangtua. Liburan adalah saat tepat belajar kehidupan. Bukan saat untuk libur menjadi orang baik sehingga seluruh kebaikan yang telah biasa mereka jalani di sekolah, sirna saat liburan tiba. Mereka seperti raja untuk sementara, sebelum kembali ke penjara suci.

Diam-diam saya teringat, konon di sebuah sekolah bernama Eton College, semacam Muallimin di Inggris tempat anaknya raja maupun anak orang sangat kaya bersekolah, para siswa diharuskan mencuci dan menyeterika bajunya sendiri. Bukan bayar laundry. Ini bukan karena orangtua mereka fakir miskin. Bukan. Tetapi karena dalam urusan sederhana itu ada kebaikan yang sangat besar bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang, termasuk dalam hal kepemimpinan. Mereka menjadi lebih peka tentang apa yang seharusnya dilakukan saat menjadi pemimpin perusahaan, termasuk dalam mengelola waktu.

Apa yang dilakukan di Eton College sebenarnya bukan barang baru, tetapi saya merasa perlu menghadirkan kisah ini selintas hanya untuk menggambarkan betapa anak-anak memerlukan latihan untuk mengasah kepekaannya, menghidupkan empatinya dan meringankan langkahnya membantu orangtua. Mereka sangat perlu memiliki semua itu karena dua alasan. Pertama, ketiganya (kepekaan, empati dan kemauan untuk meringankan langkah) sangat mereka perlukan dalam menjalani kehidupan bersama orang lain, baik ketika berumah-tangga maupun berdakwah dan mengurusi ummat. Artinya, minimal semua itu mereka perlukan untuk meraih kehidupan rumah-tangga yang baik, tidak terkecuali dalam mendidik anak. Kedua, ketiganya mereka perlukan untuk dapat berbuat kebajikan bagi kedua orangtua (birrul walidain) dengan sebaik-baiknya. Dan birrul walidain merupakan salah satu kunci kebaikan yang dengan itu anak dapat berharap meraih ridha dan surga-Nya Allah ‘Azza wa Jalla.

Jadi, urusan terpentingnya bukan karena kita kewalahan lalu perlu bantuan mereka. Bukan. Bukan pula karena kita repot sehingga memerlukan kesediaan mereka untuk meringankan tugas-tugas kita. Tetapi hal terpenting dari melibatkan anak membantu pekerjaan di rumah dan tanggap terhadap orangtua justru untuk keselamatan dan kebaikan anak kita di masa-masa yang akan datang. Kejamlah orangtua yang tak melatih anaknya untuk berbakti kepadanya hanya karena merasa orangtua tak perlu menuntut anak membantunya. Ingatlah, kita latih, dorong dan suruh mereka agar cepat tanggap dan ringan membantu bukanlah terutama untuk meringankan beban orangtua, tetapi justru agar anak-anak kita memperoleh kemuliaan dan kebaikan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dengan birrul walidain. Sekurang-kurangnya tidak menyebabkan mereka terjatuh pada perbuatan mendurhakai orangtua. Dan ini merupakan serendah-rendah ukuran.

Ada yang perlu kita khawatiri jika lalai menyiapkan mereka. Pertama, anak-anak merasa berbuat kebajikan kepada kedua orangtua, termasuk membantu pekerjaan di rumah, bukan sebagai tugasnya. Mereka tak membangkang, tetapi lalai terhadap apa yang sepatutnya mereka kerjakan. Ini merupakan akibat paling ringan. Kedua, anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang durhaka kepada orangtua. Dan karena kedurhakaan itu bersebab kelalaian orangtua dalam mendidik, maka di Yaumil Qiyamah mereka menjatuhkan orangtua di mahkamah Allah ‘Azza wa Jalla sehingga justru orang yang merasakan azab akhirat. Ketiga, sebagaimana disebut dalam hadis di atas, anak-anak berkembang menjadi pribadi yang memperbudak orangtua, bahkan setelah mereka mempunyai anak. Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Ada yang perlu kita renungkan tentang bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Saatnya kita kembali kepada tuntunan agama ini, bertaqwa kepada-Nya dalam urusan mendidik anak dan berusaha menggali tentang apa saja yang harus kita bekalkan kepada mereka.

Anakmu Bukanlah Milikmu

sebuah puisi dari seorang penyair terkenal, Kahlil Gibran


Anak adalah kehidupan,

Mereka sekedar lahir melaluimu,

tetapi bukan berasal darimu.

Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu

Curahkan kasih sayangmu,

tetapi bukan memaksakan pikiranmu

karena mereka dikaruniai pikiranya sendiri.


Berikan rumah untuk raganya,tetapi tidak jiwanya,

Karena jiwanya milik masa mendatang

Yang tak bisa kau datangi

Bahkan dalam mimpi sekalipun

Bisa saja mereka mirip dirimu, 

tetapi jangan pernah

Menuntut mereka jadi seperti sepertimu.

Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan tidak tengelam di masa lampau


Kaulah busur, dan anak – anakmulah anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.

Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya,

hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.


Meliuklah dengan sukacita

Dalam rentangan Sang Pemanah, sebab Dia

Mengasihi anak- anak panah yang meleset laksana kilat

Sebaimana pula dikasihiNya busur yang mantap

Inspirasi Rasa Sabar dan Syukur

Ada orang yang memahat kemarahan di atas batu sehingga kemarahan itu bertahan begitu lama.

Ada yang melukisnya di atas kertas. Kemarahan itu bertahan cukup lama.

Ada yang menulisnya di atas air sehingga kemarahan itu cepat sekali hilang.

Ada pula yang menggambarnya di atas angin. Kemarahannya hampir-hampir tidak sempat masuk dalam hatinya.


Ada orang yang memahat rasa syukur di atas batu sehingga kedamaian itu bertahan begitu lama.

Ada yang melukisnya di atas kertas. kedamaian itu bertahan cukup lama.

Ada yang menulisnya di atas air sehingga kedamaian itu cepat sekali hilang.

Ada pula yang menggambarnya di atas angin. Kedamaian hampir-hampir tidak sempat masuk dalam hatinya.


#mustamirpedak

#ngajibahagia

Ilusi Pikiran

Ada seorang Guru memiliki seekor kuda. Suatu hari kuda itu hilang. Salah satu muridnya berkomentar: "Ini hal buruk, Guru." Gurunya mejawab: "Aku tidak tahu."

Beberapa hari kemudian kuda yang hilang itu kembali ke rumah dengan membawa serta 5 ekor kuda yang lain. Si Murid kembali berkomentar: "Ini hal baik, Guru." Gurunya kembali menjawab, "Aku tidak tahu."

Suatu hari anak Sang Guru menaiki kuda barunya. Saat menungganginya dia jatuh sehingga kakinya patah. Si Murid berkomentar: "Ini hal buruk, Guru." Sang Guru hanya tersenyum dan berkata, "Aku tidak tahu."

Beberapa hari kemudian ada sekumpulan pasukan kerajaan memasuki desa-desa mencari pemuda-pemuda yang sehat untuk wajib militer. Karena anak Sang Guru sakit patah tulang maka dia dibiarkan di rumah saja. Sekali lagi muridnya berkomentar, "Ini hal baik, Guru." Sekali lagi gurunya berkata, "Aku tidak tahu."

Baik-buruk hanyalah ilusi pikiran. Hal yang tampak baik belum tentu baik. Hal yang tampak buruk belum tentu buruk. Itu hanyalah ilusi pikiran saja.

#mustamirpedak

#ngajibahagia





Jenis-jenis Pejalan Spiritual

 JENIS-JENIS PEJALAN SPIRITUAL #mustanirpedak 1. PEJALAN KEHEBATAN Mereka adalah orang yang ngaji demi mencari kekuatan/energi bersumber dar...