#mustamirpedak
#ngajibahagia
Di ngaji offline kemarin saya menyampaikan beberapa hal:
1. Latihan dasar memasang tombol on/off di pikiran.
2. Strategi emosi agar tetap dalam batas wajar.
Kali ini akan saya sinopsiskan poin yang ke dua.
Yang harus kita pahami adalah bahwa emosi, entah negatif atau positif, sesungguhnya bawaan kemanusiaan. Tentu dengan catatan: asal tidak berlebihan.
Pertanyaan yang pasti muncul adalah: yang berlebihan itu bagaimana?
Emosi itu masih wajar jika emosi itu masih berada di ruang perasaan dan tidak menyentuh apalagi memukul ke-aku-an.
Contoh:
Seorang guru menasihati muridnya yang bandel. Marah itu sebenarnya wajar karena keinginan perbaikan. Tetapi jika kemarahan itu seperti "Aku ini guru. Kamu harua dengarkan nasihatku". Kata-kata "aku ini guru" artinya kemarahan itu sudah menyentuh egonya (identitasnya). Inilah kemarahan yang berlebihan itu.
Sedih karena dihina misalnya. Kita wajar saja jika sedih tetapi tidak perlu mengatakan "Aku ini lebih tua kok dihina".
"Aku ini ustadz kok nggak dihargai"
"Aku ini pinter kok gagal"
"Aku ini sudah menolong dia kok dia membalasnya kayak gini"
Dlsb.
Emosi negatif yang menyentuh ego seperti ini adalah emosi-emosi negatif yang berlebihan.
Jadi kalau memang ingin marah ya marah saja tapi tidak perlu tersentuh ego/identitas dirimu.
Kalau mau sedih ya sedih saja. Mau kecewa ya kecewa saja.
Asal tidak menyentuh ego/identitasmu.
Catatan:
Emosi yang menyentuh ego/identitas diri hampir selalu mengganggu JANTUNG.
Penderitaan Jantung bisa disebabkan oleh semua jenis emosi.
Tanya: Ustadz, bagaimana cara memasang tombol on off di pikiran kita? Apakah ada kaitannya dengan ketenangan qolbu kita? 🙏
Jawab : Qolbu dipengaruhi pikiran, Mas.


No comments:
Post a Comment