#mustamirpedak
#ngajibahagia
Tadi pagi saya mendampingi anak menghapal nama harakat dalam tulisan Arab: fathah, kasrah, dhammah, sukun, fathah tanwin, dlsb. Cukup cepat dia menghapal kecuali di dhammah. Sudah diulang-ulang pun tetap belum hapal. Bahkan anak saya sampai teriak-teriak "dhammah dhammah dhammah!" agar ingat tetapi beberapa saat kemudian tidak ingat lagi.
Saya melihat ketegangan di wajahnya, mungkin, karena jengkel kok belum hapal-hapal dhammah. Melihat ketegangan itu saya melakukan upaya unik untuk membantunya. Sambil menunjuk dhammah saya berkata: "Ini dhammah. Tidak usah diingat-ingat lho!"
"Tidak usah diingat-ingat, Yah?"
"Tidak usah diingat-ingat dhammah ini. Biarin saja lupa dhammah."
"Lha nanti kalau dimarahin guru gimana?
"Cuma lupa dhammah thok nggak apa-apa"
Setelah itu, uniknya, dia langsung hapal harakat dhammah. Hehehe...
Begitulah uniknya manusia. Saat dia disuruh ingat malah lupa. Saat disuruh lupa malah ingat.
Secara psikologis sesungguhnya hukumnya mirip-mirip juga. Jika seseorang ingat peristiwa buruk dan ingin melupakannya justru ingatan itu semakin kuat dan semakin kuat. Sebaliknya ketika disuruh mengingat peristiwa-peristiwa baik justru melupakannya.
Kuncinya adalah rileks (tidak tegang). Semakin tegang kita semakin gagal. Dan ketegangan itu seringkali karena kamu terlalu menginginkannya.
Jadi kalau sedih tidak perlu ingin tidak sedih. Biarin saja kesedihan itu...
Kalau marah tidak perlu ingin tidak marah. Biarin saja marah itu...
Biarin saja...
Tanya: Mkny pak ustadz saat ingin melupakan hal buruk kok mlh ingat terus ma sya Allah ternyata rumusny sprti it 😊
Jawab: Sabar itu keindahan jadi tidak harus diharuskan. Menikmati keindahan itu sifat azali manusia, Pak.
Izinkan kesabaran hadir otomatis.
No comments:
Post a Comment