@mustamirpedak
Istilah social distancing menjadi sangat populer karena menjadi salah satu strategi mencegah mewabahnya virus (baca: corona). Intinya adalah kita menjaga jarak ketika berinteraksi dengan orang lain.
Nah, sebenarnya ini juga berlaku dalam kaitan "wabah" emosi. Emosi kita mewabah merasuki seluruh elemen psikis dan fisik kita. Misalnya, saat takut maka virus takut itu mewabah ke kepala kita sehingga pusing, ke dada kira sehingga sesak, atau ke sendi-sendi sehgga terasa ngilu. Demikian juga emosi-emosi yang lain.
Nah, saya punya teknik untuk mencegah mewabahnya virus emosi itu dalam diri kita. Agar kedengeran keren saya beri nama mental distancing.
Kesalahan terbesar kita adalah terlalu dekatnya aku kita dengan mental kita. Bahkan saking dekatnya sering kali menyatu. Kita tidak menyadari lagi antara aku dan mentalku. Jika antara aku dan mentalku ini terlalu dekat maka si aku mudah tertular negatifitas dari mentalku. Apalagi jika antara aku dan mentalku itu menyatu maka negatifitas itu dengan tanpa jeda langsung merusak aku.
Nah, di sinilah pentingnya kita melakukan mental distancing. Caranya adalah dengan cara mengawasi mentalku itu. Kalau perlu imajinasikan mentalku itu dalam layar televisi lalu aku mengawasi mentalku. Lakukan beberapa menit maka negatifitas mentalku tidak akan mengganggu aku.
Menjadi Saksi
Tanpa sadari kamu menganggap tubuhmu adalah kamu. Kamu menganggap perasaanmu adalah kamu atau bahkan menganggap pikiranmu adalah kamu.
Akhirnya kamu terpenjara dalam tubuhmu, perasaanmu dan pikiranmu. Inilah sumber malapetaka dan penderitaan panjangmu.
Kamu harus sadar bahwa kamu bukanlah tubuhmu, bukanlah perasaanmu dan bukanlah pikiranmu. Kamu adalah kamu.
Maka jadilah saksi bagi tubuhmu, perasaanmu, dan pikiranmu sebelum mereka kelak menjadi saksimu di hadapan-Nya. Saksikan apa yang mereka lakukan. Amatilah gerak gerik mereka. Dengarkan suara-suara mereka. Rasakan sensasi-sensasi mereka. Prinsipnya adalah SADARILAH!
Setiap pagi kumpulkan mereka dan suruh mereka mendengarkanmu:
1. Wahai tubuhku, hari ini aku akan menyaksikan gerak gerikmu. Tuhan menitipkanmu kepadaku untuk membantuku maka bantulah aku.
2. Wahai perasaanku, hari ini aku akan menyaksikan gerak gerikmu. Tuhan
menitipkanmu kepadaku untuk membantuku maka bantulah aku.
3. Wahai pikiranku, hari ini aku akan menyaksikan gerak gerikmu. Tuhan menitipkanmu kepadaku untuk membantuku maka bantulah aku.
No comments:
Post a Comment