Thursday, February 4, 2021

Ahli Bahasa dan Tukang Perahu

Ini cerita terinspirasi dari Kitab Matsnawi. Kurang lebih sebagai berikut:

Suatu ketika seorang ahli bahasa ingin menikmati indahnya lautan. Bersama tukang perahu dia menikmati lautan bahkan jauh ke tengah laut.


Si Ahli bahasa bertanya kepada tukang perahu: "Pak, kamu pernah belajar tentang metafora?"

Si Tukang Perahu menjawab: "Wah, saya tidak pernah belajar, Tuan."

Si Ahli Bahasa lalu berkata sinis, "Betapa ruginya kamu karena sudah setua ini tidak pernah belajar tentang metafora."


"Wah saya tidak pernah sekolah, Tuan."

"Kamu pernah belajar apa itu majaz?"

"Tidak, Tuan."

"Wah, kamu benar rugi. Sudah setua ini tidak pernah belajar tentang majaz."

"Maaf, Tuan. Setiap hari saya hanya bekerja di laut."


"Lha kalau 'obyek predikat obyek' kamu pernah belajar tidak?"

"Tidak juga, Tuan."

"Aduh. Kamu benar-benar rugi. Sudah setua ini kok tidak pernah belajar tentang 'subyek predikat obyek'"


Tiba-tiba badai datang. Ombak semakin meninggi. Perahu itupun oleng dan kemungkinan besar akan tenggelam.

Saat itu Tukang Perahu bertanya kepada Ahli Bahasa, "Tuan, pernahkah tuan belajar berenang?"

Dengan gemetar ketakutan Si Ahli bahasa menjawab, "Tidak pernah, Pak."

"Waduh, Tuan benar-benar rugi sudah setua ini tidak pernah belajar berenang."

Perahupun tenggelam dan Si Ahli bahasa pun tewas. Sementara Si Tukang perahu selamat.


Hikmah:

Semua ilmu milik Allah semata. Jangan pernah menyombongkan ilmumu atas ilmu orang lain.

Pikiran, sebagai alat memperoleh pengetahuan, hanyalah alat. Jika ingin bahagia kita harus melampaui pikiran kita sendiri.


#mustamirpedak

#ngajibahagia


NB.

Tanya: nuwun sewu pak Mus. bagaimana jika kita merendahkan diri dihadapan orang lain? misal orang itu sedang marah dengan kita? 🙏🏼

Komen:  Merendahkan diri atau merendahkan hati 🤔

nuwun sewu, merendahkan diri sesuai yg dikatakan orang itu kepada kita. misal bos bilang kepada saya jika "kamu malas2an mengerjakan itu, dasar bodoh" lalu saya cuma "iya iya" saja. dan menurut saya tidak seperti itu. jadi meng-iya-kan kata "bodoh" kepada diri saya pribadi itu kan sebenarnya merendahkan diri sendiri. itu maksud saya pak 🙏🏼


Jawab: Apapun sikap kita kepada orang lain itu tidaklah penting. 

Yang jauh lebih penting adalah NIAT yang mendasari sikap kita itu, Mas.

Jika menurut njenengan harus marah maka marahlah dengan niat yg baik.

Jika menurut njenengan harus diam maka diamlah dengan niat yg indah.



Tanya: Maaf pak Mus .. mohon di jelaskan Jika ingin bahagia kita harus melampaui pikiran kita sendiri 

terimakasih

Jawab: ???

No comments:

Post a Comment

Jenis-jenis Pejalan Spiritual

 JENIS-JENIS PEJALAN SPIRITUAL #mustanirpedak 1. PEJALAN KEHEBATAN Mereka adalah orang yang ngaji demi mencari kekuatan/energi bersumber dar...