#mustamirpedak
Kemarin waktu ngaji malam Kamis ada mbak mbak telepon saya. Dia meminta tolong saya untuk meruqyah ibu mertuanya (63 th) yang sakit di sebuah rumah sakit di Semarang. Ibu mertua mbak tersebut rupanya mengalami gagal ginjal dan karena kondisinya yang sangat lemah dokter tidak mau melakukan cuci darah.
Sudah semingguan Si Ibu mengalami kesakitan yang hebat. Melihat kondisi seperti itu tentu saja keluarga sangat prihatin dan bersedih hati. Hingga mereka berharap: jika memang sudah saatnya dipanggil Allah semoga dimudahkan prosesnya. Saya menjanjikan untuk meruqyah kamis paginya.
Karena situasi yang memburuk direncanakan dirujuk ke rumah sakit lain yang lebih tinggi level pelayanannya sehingga saya diminta menunda dulu ruqyahnya.
Tetapi rupanya si ibu tidak jadi dirujuk karena tidak ada ruangan katanya. Sore harinya si mbak, yang telepon saya itu, datang ke rumah saya meminta doa. Si Mbak menceritakan kisah hidup ibu mertuanya. Selama ini ibu mertuanya adalah penjual miras dan bandar togel (semoga Allah mengampuninya).
Saya menduga bahwa Si Ibu mencintai dunia secara berlebihan. Inilah penyebab paling sering dari sakaratul maut yang sulit. Saat sakaratul maut dia begitu ketakutan meninggalkan dunia sehingga terjadi semacam perang antara keinginannya mempertahankan dunia dengan rasa sakitnya yang akan membawanya ke alam keabadian.
Saya memberinya air putih yang saya doakan sambil berpesan: nanti usapkan air putih ini di wajah, tangan, kepala, dan kakinya. Bisikkan di telinga ibu syahadat sambil diselingi: Ibu, semua milik Allah (berulang-ulang).
Tadi subuh saya dikabari Si Ibu sudah dipanggil Allah tepat adzan subuh.
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji'uun.
Note:
Mencintai dunia berlebihan akan menyulitkan pertemuan mesra si hamba dengan Allah Yang Maha Indah.
No comments:
Post a Comment