#mustamirpedak
Saya ingin cerita dua hal.
Pertama.
Sewaktu kecil dulu bapak saya, mungkin juga bapakmu, saat kita jatuh beliau berkata: "Ke mana kodoknya lari?" Seketika kita tidak jadi menangis karena pikiran kita diajak mencari kodok yang lari. Rasa sakit itu seperti hilang tertutupi oleh pencarian kodok. Kini kita tahu bahwa kodok itu fiktif belaka.
Kedua.
Ibu-ibu di desa yang setengah baya bekerja sedemikian kerasnya. Bangun sebelum subuh hingga adzan subuh lalu memasak untuk sarapan anak-anaknya. Setelah shalat mencuci atau menyapu hingga terbit matahari. Lalu ke sawah atau ladang untuk menanam dan memelihara tanaman.
Menjelang siang pulang. Mungkin masak atau melakukan pekerjaan lain.
Menjelang Ashar kembali ke sawah atau ladang. Pulang ketika matahari menjelang terbenam. Sesampai rumah merapikan dan membersihkan rumah yang berantakan akibat ulah anak-anaknya. Sehabis maghrib mengawasi anak-anaknya belajar sambil melakukan pekerjaan yang belum terselesaikan: nglempit pakaian atau menyetrika. Hingga tidur setelah suami dan anak-anaknya telah tidur lelap beberapa waktu sebelumnya. Itu terus berulang bertahun-tahun lamanya.
Pertanyaannya: di manakah rasa lelah Sang Ibu itu? Seharusnya dia lelah selelah-lelahnya atau bahkan jatuh sakit. Salah satu jawabannya: rasa lelah dan sakit itu meleleh oleh cinta suci kepada keluarganya. Rasa sakit itu menguap ke langit dihantarkan oleh rindunya kepada ridha Sang Penguasa Langit. Atau rasa sakit itu tenggelam dalam dekapan tanah keikhlasannya.
Jika kamu masih merasakan rasa sakit ada baiknya kamu belajar "mencari kodok" atau belajar kepada ibu itu untuk memurnikan cintamu.
Jika kamu terus fokus kepada sakitmu maka rasa sakit itu akan terus menindasmu.
"Carilah kodok!" artinya: lakukan aktifitas untuk nyelimurke fokusmu kepada rasa sakit. Atau dengan memurnikan cinta!!
Komen: Super sekali Ustadz mengingatkan hal sederhana, yg harusnya kita lakukan 🙏🙏
Ini contoh menumbuhkan rasa syukur melalui perbaikan susunan bahasa.
Saat susunan bahasa diubah maka membantu mengubah emosi menjadi lebih positif.
Ketika emosi lebih positif maka nikmat-nikmat Allah yang lain akan bertambah banyak. Sebagaimana janji-Nya: jika kamu bersyukur maka akan Aku tambah nikmat-Ku kepadamu.
Komen: Alhamdhulilah niki diparingi sakit wojo pak mus....
Tanggapan: Kumur pakai air garam panas beberapa kali insyaallah berkurang sakitnya
Lebih bagus pakai garam krosok
Tanya: pak Mus. ada tulisan atau perkataan bahwa kita jika ingin menjadi pemimpin harus dihadapkan kenyataan bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua pihak. apakah memang seperti itu pak? misal dalam kehidupan keluarga, rumah tangga, bertetangga sampai bersosial di luar. sedangkan pada dasarnya tidak ingin semuanya ada yg salah mesalahkan. maturnuwun 🙏🏼
Jawab: Setelah hati damai, melakukan hal-hal baik semampunya, setelahnya tidaklah dalam kendali kita.
Setelah hatimu damai, melakukan hal-hal baik semampunya, maka terimalah respon dari luar sebagai wahana pendidikan hati...
Tanya: Menikmati realisatas apa juga merupakan salah satu bentuk syukur pak Mus ?
Jawab: Benar, Mbak...
Minimal nikmati realitas terdekat kita yakni napas kita...
Nikmatilah napas...
Ketakutan² dan semacamnya adalah akibat imajinasi² yang kamu buat sendiri yang seakan-akan benar² nyata.
#mustamirpedak
Berdoa bukanlah untuk mengubah Tuhan. Berdoa adalah untuk mengubah si pendoa itu sendiri
Pikiran negatifmu adalah magnet bagi energi negatif semesta.
Maka semakin takut kamu dengan sesuatu maka sesuatu itu semakin mendekatimu.
#mustamirpedak
Jika kamu berada dalam kedamaian maka pikiran cerdasmu, TANPA KAMU SADARI, akan menemukan penyelesaian masalahmu dan atau menyembuhkan luka-lukamu
#mustamirpedak
Dan...
Kamu (seharusnya) menemukan kedamaian dalam shalatmu...
Karena itulah Dia Yang Maha Menyelesaikan Masalah dan Maha Menyembuhkan berpesan indah:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
Meminta tolonglah dengan sabar dan SHALAT

No comments:
Post a Comment