Seorang bapak dan ibu mengeluhkan anaknya yang emosional. Katanya: bandel, susah diatur, malas, dan suka membantah.
Usia anaknya 16 tahun. Si Bapak datang ingin meruqyahkan anaknya itu. Menurut Si Bapak anaknya tidak sebaene. Dia curiga anaknya diganggu setan. (Maaf, dalam hati saya bertanya-tanya: memangnya ada orang yang tidak diganggu setan??)
Saya mengajak ngobrol bapak, ibu dan anak itu. Si Bapak dan Si Ibu "memamerkan" betapa dia mencintai anaknya. Semua kebutuhannya dipenuhi. Disekolahkan di sekolah terbaik. Diberi les sesuai minat si anak. Mereka merasa sudah membuktikan bahwa mereka mencintai anaknya dengan sempurna.
Si Anak melihat bapaknya yang membanggakan "cintanya" itu dengan pandangan marah. "Papa bohong. Papa sama Mama tidak sayang kepadaku. Papa dan Mama suka ngatur-ngatur aku. Aku nggak anak kecil lag!"
Itu kira-kira "diskusi" yang terjadi di tempat saya menerima tamu.
Saya jadi mengerti bahwa cara kita mencintai anak kadang-kadang tidak nyambung dengan perasaan dicintai si anak.
YANG PALING PENTING BUKANLAH APAKAH KAMU MENCINTAI ANAKMU ATAU TIDAK TETAPI APAKAH ANAKMU MERASA DICINTAI ATAU TIDAK.
#mustamirpedak
No comments:
Post a Comment